KEPANJEN - Gempa bumi sering terjadi di Kabupaten Malang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Stasiun III Malang mencatat terjadi 327 gempa bumi yang berpusat di Bumi Kanjuruhan sepanjang tahun 2024. Per bulannya, terjadi 20-35 kali gempa.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Stasiun III Malang Mamuri menyampaikan, kemarin (11/9) juga terjadi gempa tektonik pada pukul 10.15 WIB. Gempa tersebut berlokasi di laut dengan jarak 152 kilometer arah tenggara Kabupaten Malang dengan kedalaman 63 kilometer. ”Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki magnitudo M 4,8 (4,8 Skala Richter) dan dari hasil analisis menunjukkan gempa bumi itu tidak berpotensi tsunami,” ucapnya kemarin.
Dia menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episentrum dan kedalaman titik awal terjadinya gempa bumi (hiposenter), gempa bumi tersebut merupakan jenis gempa bumi menengah. Kejadian tersebut terjadi akibat aktivitas deformasi atau perubahan bentuk dan ukuran batuan dari pergerakan lempeng tektonik dalam lempeng Indo-Australia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
”Gempa bumi tersebut berdampak dan dirasakan di daerah Kabupaten Malang dengan skala intensitas III MMI (Modified Mercally Intensity). Artinya, getaran dirasakan nyata dalam rumah seperti ada truk yang lewat,” kata dia. Sedangkan, di Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar, gempa dirasakan dengan skala intensitas II MMI. Artinya, getaran dirasakan beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Sementara di Kota Malang, dengan skala intensitas II-III MMI.
Sebagai informasi, di bagian selatan Pulau Jawa memang terdapat lempeng Indo-Australia yang menyusut ke bawah lempeng Eurasia. Lempeng Eurasia tersebut berada di atas langsung Pulau Jawa. Sehingga, dua lempeng itu berpotensi untuk subduksi. Proses geologi di mana satu lempeng tektonik, biasanya lempeng samudra yang lebih padat, menunjam atau menghunjam ke bawah lempeng lain.
Wilayah Malang memang berpotensi terjadi megathrust atau gempa bumi dengan kekuatan besar. Setidaknya hingga lebih dari 7 SR. Akan tetapi, Mamuri menyampaikan, waktu terjadinya gempa bumi sampai saat ini belum bisa diprediksi. ”Kami pun hanya bisa mendeteksi gempa bumi ketika sudah terjadi. Jadi, kami tidak bisa meramalkan waktu terjadinya gempa bumi tersebut,” pungkasnya. (yun/gp)
Editor : A. Nugroho