Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Peringati Tiga Tahun Tragedi Kanjuruhan, Mahasiswa di Malang Raya Tuntut Reformasi Polri

Bayu Mulya Putra • Jumat, 3 Oktober 2025 | 17:13 WIB

 

 

SAMPAIKAN ASPIRASI: Mahasiswa yang tergabung dalam BEM Malang Raya melakukan aksi simbolik di depan Monumen Tragedi Kanjuruhan, Rabu malam (1/10).
SAMPAIKAN ASPIRASI: Mahasiswa yang tergabung dalam BEM Malang Raya melakukan aksi simbolik di depan Monumen Tragedi Kanjuruhan, Rabu malam (1/10).

KEPANJEN - Mahasiswa dari beragam kampus di Malang raya bergerak menuju Stadion Kanjuruhan Rabu malam (1/10). Mereka ambil bagian dalam aksi simbolik untuk tragedi kemanusian di Stadion Kanjuruhan, tiga tahun silam. Dalam aksi tersebut, beragam tuntutan disampaikan. Salah satunya yakni reformasi di tubuh Polri.

Muhammad Rizky Ramadhan, Wakil Presiden BEM UIN Maliki menyampaikan, ada 250-an mahasiswa yang ambil bagian dalam aksi itu. Mereka berada satu di bawah BEM Malang Raya. Rombongan berangkat dari Kota Malang pukul 20.10. Massa tiba di Stadion Kanjuruhan pada pukul 21.10.

Mereka berkumpul di Monumen Tragedi Kanjuruhan, di selatan stadion. Para mahasiswa menyampaikan orasi dan puisi dengan menyalakan 50 lilin yang disebar di depan monumen tersebut. ”Ini aksi simbolik untuk merawat ingatan teman-teman terkait tragedi kejahatan manusia,” kata Rizky.

DOAKAN KORBAN: Selain mahasiswa, sejumlah suporter hadir dan turut memanjatkan doa di depan gate 13 Stadion Kanjuruhan.
DOAKAN KORBAN: Selain mahasiswa, sejumlah suporter hadir dan turut memanjatkan doa di depan gate 13 Stadion Kanjuruhan.

Dia menyebut bahwa tragedi tersebut harus mendapatkan peringatan khusus. Terlebih, kejadian tersebut sudah menyita dan atensi dari dunia internasional. Selain melakukan aksi simbolik, para mahasiswa juga menyampaikan beberapa aspirasinya.

Yang utama yakni reformasi di tubuh Polri. Khususnya memperketat prosedur pengamanan dan penanganan massa. Rizku melihat bahwa SOP itu tidak banyak berubah. ”Ini terjadi seperti di Jakarta (tragedi Affan Kurniawan) kemarin, yang akhirnya menimbulkan gejolak protes di kota dan daerah lainnya,” jelas dia.

Mahasiswa juga meminta keadilan bagi seluruh korban tragedi Kanjuruhan. Tidak hanya keadilan hukum, namun juga dukungan moral, psikologis, dan materiil. ”Korban yang meninggal bukan hanya usia muda, tetapi seorang ayah yang meninggalkan anak-anak mereka,” terang Rizky.

Setelah menyampaikan tuntutan dan pernyataan sikap, mahasiswa akan merumuskan propaganda media. Itu dilakukan untuk mendapatkan atensi dari pemerintah pusat agar mengusut tuntas tragedi tiga tahun lalu.

Setelah melakukan aksi simbolik, rombongan mahasiswa bergabung dengan kelompok suporter yang datang pada pukul 22.00 di pintu 13. Para mahasiswa bersama suporter melantunkan doa bersama di depan pintu tersebut. Sekitar pukul 23.00, rombongan mahasiswa meninggalkan area Stadion Kanjuruhan. (yad/by)

Editor : A. Nugroho
#Tragedi Kanjuruhan #Malang Raya #stadion kanjuruhan #mahasiswa #Kampus