KEPANJEN - Dimulai sejak Oktober 2024, proyek rehabilitasi Jalan Gondanglegi - Bantur - Balekambang masih terus berjalan. Sesuai jadwal, proyek multi-years itu ditarget tuntas pada tahun depan. Tepatnya pada bulan Mei 2026 (selengkapnya baca grafis).
Seperti diberitakan, proyek itu merupakan kerja sama antara Pemkab Malang dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herawanto menjelaskan, sejak awal proyek itu disusun secara multi-years. Alokasi anggarannya dilakukan bertahap dalam tiga tahun.
”(Proyek multi-years) hanya satu itu saja. Itu merupakan hasil sinergi dari kebijakan pusat dan daerah untuk menunjang perkembangan ekonomi, dan tetap menyesuaikan skala prioritas serta kemampuan fiskal,” papar Tomie. Proyek itu mencakup perbaikan jalan sepanjang 30,4 kilometer.
Semua pendanaan proyeknya berasal dari pinjaman Islamic Development Bank. Dari pantauan Jawa Pos Radar Kanjuruhan, sampai kemarin (6/10) proyek tersebut masih dalam proses pengerjaan. Salah satunya di depan Puskesmas Pembantu (Pustu) Pagelaran di Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran.
Pekerja tampak masih berkutat di tahap pengerukan tanah. Itu dilakukan di sisi barat jalan. Tujuannya untuk menyiapkan drainase jalan. Satu ekskavator dan alat berat dikerahkan. Sementara di sisi timurnya, meski belum menyeluruh, tampak sudah terpasang box culvert.
Dikonfirmasi soal progres proyek, Humas Badan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (B2PJN) Jawa Timur-Bali Achsan Asjhari mengaku belum mendapatkan perkembangan terkini dari tim di lapangan. ”(Progres) terakhir di-update pada 3 Oktober. Lot 16 A sudah 32,05 persen. Sementara Lot 16 B sudah 38,23 persen,” ucap dia ketika dihubungi.
Lot 16A mencakup wilayah Gondanglegi-Wonokerto. Sementara Lot 16B dari Wonokerto sampai Balekambang. Bersamaan dengan proses pembangunan tersebut, pembebasan tanah juga masih berlangsung. Total, proyek tersebut memerlukan 1.779 petak lahan untuk pelebaran jalan dan pembangunan drainase.
Pembangunan di Lot 16A ditangani Kementerian PU langsung. Total lahan yang sudah dibebaskan di kawasan itu mencapai 65,91 persen. Sementara yang belum bebas masih ada 287 bidang tanah. ”Kami koordinasi intensif dengan BPN dan Pemkab Malang untuk menuntaskan pembebasan lahan itu,” tambah Achsan.
Sedangkan Lot 16B ditangani Pemkab. Khusus yang ditangani pemkab, sudah disiapkan konsinyasi (uang ganti rugi yang dititipkan ke pengadilan) kepada para pemilik lahan. Dari laman Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, terpantau ada 40 berkas konsinyasi pada warga di sekitar Lot 16B.
Dari jumlah tersebut, ada 18 berkas perkara konsinyasi yang masih berstatus penawaran. Yang lainnya sudah minutasi alias sudah diambil dan perkaranya selesai. Nominal uang yang sudah diambil warga bervariasi. Mulai dari Rp 4 juta sampai 250 juta, menyesuaikan dengan petak lahan yang digunakan untuk jalan.
Dengan masih berlangsungnya pekerjaan, otomatis perjalanan wisatawan yang berlibur ke pantai selatan menjadi terganggu. ”Kalau kendaraannya tergolong rendah seperti sedan atau motor matic pasti gasruk,” kata Kanit Keamanan dan Keselataman (Kamsel) Satlantas Polres Malang Ipda Umar Kiswoyo.
Selain itu, karena masih banyak jalan yang belum diaspal, problem debu jalanan yang banyak bakal dirasakan pengendara. Umar mengatakan bahwa selama proyek itu berlangsung, jalan tersebut bisa dilalui. Namun untuk yang keadaan darurat saja. Artinya, tidak untuk dipakai menuju wisata. Sejumlah alternatif jalan pun telah disiapkan. ”Bisa lewat Turen-Sumbermanjing Wetan (Sumawe), atau lewat Kalipare-Donomulyo yang tembus Purboyo,” tandas Umar. (biy/by)
Editor : A. Nugroho