Tiap Malam Penonton Selalu Antre untuk Menonton Film
Irama Theater pernah menjadi bioskop paling ramai di wilayah Malang Selatan. Gedung berkapasitas 200 kursi itu berdiri sejak 1955 dan setiap malam dipenuhi warga yang ingin menonton film. Namun, kejayaan itu berakhir pada 1991 setelah Pasar Lama Dampit terbakar dan kawasan sekitar perlahan sepi
CAT putihnya telah kusam, terkelupas di beberapa sisi dinding. Dua pintu besi berkarat berdiri masih rapat. Seolah menolak waktu yang terus mengetuk. Di atasnya, angka “1955” terpahat samar. Tulisan itu menjadi satu-satunya tanda kejayaan masa lalu yang masih tersisa.
Itulah Irama Theater, gedung bioskop tua di jantung Kecamatan Dampit yang kini tinggal kenangan. Dulu, sebelum catnya pudar dan karat memakan gerbangnya, tempat itu jadi pusat hiburan paling meriah di Malang Selatan. Malam-malam di sekitar Pasar Lama Dampit selalu penuh cahaya.
Anak muda berdandan rapi datang menonton film, pedagang pasar menutup lapak lebih awal demi keburu tayang perdana. Hiruk-pikuk penonton, suara tawa, dan aroma jagung bakar bercampur jadi satu.
”Sekitar tahun 1991 bioskop ini sudah nggak beroperasi,” kenang Ngadiono, warga sekitar yang akrab disapa Cak Ndut. Lelaki 65 tahun itu berdiri di depan bangunan tua yang kini sepi itu, seolah sedang berbincang dengan masa lalu.
Dulu tiap malam ramai. Orang antre dari luar. Satu studio isinya sekitar 200 kursi. Tiketnya murah, mulai 75 sampai 300 rupiah. Cak Ndut masih ingat betul deretan judul film yang dulu pernah tayang di sana.
Film India, Hongkong, film barat, sampai film Indonesia seperti Suzanna hingga Warkop DKI semua pernah diputar.
”Penontonnya nggak cuma orang Dampit, banyak juga yang datang dari Ampelgading, Tirtoyudo, sampai Lumajang,” ujarnya.
Bioskop Irama Theater itu, kata dia, bukan cabang dari yang ada di Kota Malang. Meski namanya sama, pemiliknya berbeda. Di Dampit, merupakan milik keluarga Margosuko.
Mereka saudagar keturunan Belanda-Jawa yang punya kebun kopi besar dan pabrik pengolahannya.
”Orang-orangnya kaya dan dermawan. Selain ngurus kopi, mereka juga punya hotel di Kota Malang dan bikin bioskop ini di depan pasar,” kata Cak Ndut.
Di masa itu, Dampit memang dikenal sebagai kota kecil yang makmur. Jalur kereta api masih aktif, pasar ramai, dan hasil bumi seperti kopi jadi andalan ekspor.
”Zaman Belanda dulu, Dampit termasuk sentra niaga hasil perkebunan di Malang bagian selatan,” jelas pemerhati sejarah Tjahjana Indra Kusuma.
Banyak fasilitas dibangun di sana. Mulai kantor pos, sekolah, jalur telepon, sampai stasiun. Irama Theater itu bagian dari geliat kota yang sedang maju.
Namun, kejayaan itu tak bertahan lama. Sekitar tahun 1991, Pasar Lama Dampit terbakar hebat. Api melahap puluhan lapak dan mengubah pusat kota jadi puing-puing hitam.
Sejak saat itu, kawasan di sekitar pasar perlahan kehilangan denyutnya.
”Setelah pasar terbakar, orang nggak seramai dulu. Bioskop juga jadi sepi. Akhirnya tutup,” tutur Winarti, 59, warga yang rumahnya berjarak tak sampai 100 meter dari gedung itu.
Ia masih ingat masa ketika Irama Theater bukan hanya tempat menonton film, tapi juga ruang berkumpul warga. Kadang malam ada pertunjukan ludruk. Grup-grup dari Surabaya sering tampil di sana.
Jika ada pentas, penontonnya sampai berdiri di luar. Kini, kawasan itu berubah total. Bekas Pasar Lama menjadi lapangan terbuka yang dipenuhi warung tenda.
Hanya Irama Theater yang masih berdiri meski tertutup rapat dan sunyi. Dari luar, tampak seperti bangunan tanpa jiwa, tapi bagi sebagian warga, tembok tua itu masih menyimpan gema tawa dan tepuk tangan masa lalu.
”Mungkin cuma angin, tapi rasanya kayak Irama itu belum benar-benar hilang. Masih ada di kepala orang-orang yang pernah nonton di sana,” ucap Winarti.
Di tengah kota yang terus berubah, Irama Theater tetap berdiri jadi saksi bisu kejayaan sebuah kota kopi yang dulu begitu hidup. Ia tak lagi memutar film, tapi diam-diam masih menayangkan kenangan di benak mereka yang pernah mengisi kursinya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho