Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bertambah 37 Korban, SPPG Pemasok Makan Bergizi Gratis di Kepanjen Ditutup Sementara

A. Nugroho • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 20:44 WIB
LAYANI 2.712 PENERIMA MANFAAT: Operasional SPPG Mangunrejo, Kepanjen sudah dihentikan Badan Gizi Nasional (BGN) lewat surat tertanggal 23 Oktober lalu.
LAYANI 2.712 PENERIMA MANFAAT: Operasional SPPG Mangunrejo, Kepanjen sudah dihentikan Badan Gizi Nasional (BGN) lewat surat tertanggal 23 Oktober lalu.

KEPANJEN - Beberapa jam setelah kasus keracunan mencuat, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangunrejo, Kepanjen dihentikan untuk sementara waktu. Ketetapan itu tertuang lewat surat dari Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 698/D.TWS/10/2025 tertanggal 23 Oktober 2025. Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi menyampaikan, pihaknya tidak bisa melakukan intervensi terhadap keputusan tersebut.

 

”Penutupan SPPG itu menjadi kebijakan BGN sambil menunggu hasil laboratorium dari dinkes (dinas kesehatan) dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Biasanya dua sampai tiga hari (sudah keluar hasilnya). Jika tidak terbukti, Insya Allah bisa beroperasi lagi,” ujar dia, kemarin (24/10). Mahila menjelaskan, keracunan tersebut belum bisa dipastikan karena menu Makan Bergizi Gratis (MBG) atau tidak. Sebab, yang mengalami keracunan berasal dari satu sekolah.

 

Data terbaru yang didapat Jawa Pos Radar Kanjuruhan menyebut, total ada 34 pelajar dan tiga guru yang jadi korbannya (selengkapnya baca grafis). Untuk diketahui, SPPG Mangunrejo tersebut melayani 2.712 penerima manfaat MBG. ”Sepertinya karena higienitas. Mungkin karena waktu pengiriman atau saat anak-anak makan,” imbuh Mahila.

 

Sementara itu, Nur Kholida, Kepala Sekolah MTs Al Khalifah  menyampaikan, biasanya MBG datang sekitar pukul 08.30. Sedangkan saat terjadi keracunan, MBG datang sekitar pukul 10.00. ”Biasanya saat datang itu, lauknya masih hangat. Pas (anak-anak) keracunan itu sudah dingin,” kata dia.

 

Menu MBG yang dibagikan saat itu yakni ayam katsu, tahu goreng, serta sayur wortel dan jagung yang dikukus. Buahnya ada pisang, namun menurut dia tampak terlalu matang. Sehingga baunya sudah menyengat sampai ke lauk dan nasi. Saus untuk ayam katsu tidak dipisah.

 

”Begitu makanan datang, langsung dikonsumsi anak-anak, 15 menit kemudian, anak-anak mengeluh sakit perut, pusing, dan ada yang muntah. Langsung kami bawa ke klinik dan RSUD Kanjuruhan,” lanjutnya. Keracunan itu terjadi di beberapa kelas. Mulai dari kelas 7 sampai 9 dengan gejala yang hampir sama.

 

Sejumlah guru juga menjadi korban. Sebab, setiap MBG datang, guru akan mencoba makanannya terlebih dahulu. Di tempat lain, Wakil Bupati (Wabup) Malang Lathifah Shohib memastikan bahwa pemkab masih melakukan penyelidikan terkait keracunan tersebut. Menurut dia, bisa jadi ada penyebab lain selain MBG yang mengakibatkan keracunan. 

 

”Karena kejadian ini ada di satu sekolah, jadi belum bisa menduga itu dari SPPG. Kalau terjadi di beberapa sekolah, masih bisa dianggap dari SPPG,” ucap dia. Oleh karena itu, pihaknya menduga ada faktor eksternal yang menyebabkan keracunan tersebut. Lathifah juga menyebut bahwa hasil uji laboratorium baru bisa diketahui beberapa hari.

 

Sebagai upaya pencegahan supaya keracunan tidak terjadi lagi, pemkab sudah membentuk satgas percepatan penyelenggaraan MBG. itu dilakukan berdasar Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Nomor 400.5.7/4072/SJ tanggal 25 Juli 2025. Berdasar SE tersebut, satgas diketuai oleh pejabat yang ditunjuk bupati/wali kota dengan anggota yang terdiri dari unsur perangkat daerah terkait.

 

Satgas bertugas melakukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan terkait percepatan penyelenggaraan program MBG di daerah masing-masing. Serta menyediakan sarana dan prasarana kantor bersama untuk satgas MBG. (yun/by)

Editor : A. Nugroho
#KEPANJEN #Makan Bergisi Gratis #malang