KEPANJEN - Agenda pelatihan melinting rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang mulai membuahkan hasil. Banyak peserta pelatihan yang kini sudah bekerja di pabrik rokok. Total, sudah ada 750-an orang yang mendapat pekerjaan setelah mengikuti pelatihan tersebut.
Total, ada 25 agenda pelatihan linting SKT yang dilakukan Disperindag dengan menggandeng beberapa pabrik rokok. Kemarin (27/10), dilaksanakan agenda pelatihan ke-15 dan ke-16 di Hotel Grand Miami, Kepanjen. Dalam pelatihan yang dimulai pukul 09.00 tersebut, ada 100 orang peserta. Per tahap, pesertanya ada 50 orang.
Pematerinya berasal dari PT Gudang Baru Berkah dan Santoso Jaya Emas. Kepala Disperindag Kabupaten Malang Muhammad Nur Fuad Fauzi mengatakan, semua peserta yang sudah ikut maupun baru menjalani pelatihan kemarin (27/10) dipastikan akan bekerja. ”Mereka sebelumnya tenaga magang, dan perlu ditingkatkan kompetensinya untuk bisa bekerja sebagai tenaga linting SKT di pabrik tersebut,” terang dia.
Hasil yang diharapkan dari pelatihan tersebut yakni kuantitas lintingan rokok. Rata-rata, pelinting rokok yang sudah bekerja minimal dapat melinting seribu batang dalam satu hari. Bila nominal tersebut diterapkan pada pelinting pemula, itu bisa membuat kualitas lintingan kurang baik.
”Hasil lintingan tidak boleh terlalu kopong (longgar), juga tidak boleh terlalu padat. Masalahnya, banyak yang bisa melinting cepat, tapi hasilnya kena sortir,” kata Fuad. Sejauh ini, dari 14 tahap pelatihan yang diadakan, sudah ada 750-an pekerja tenaga linting rokok SKT yang skillnya meningkat. Mereka sudah brkerja di 114 pabrik rokok yang ada di Kabupaten Malang.
Sementara itu, Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib mengatakan bahwa industri tembakau adalah industri yang mampu mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Malang. Setidaknya, bagi warga di sekitar pabrik rokok yang memproduksi SKT. Sejauh ini, metode pelatihan yang dilakukan dirasa cukup efektif. ”Karena pelatihan ini lebih banyak praktiknya daripada teorinya, jadi lebih mudah diserap dan tidak membosankan,” kata dia. (biy/by)
Editor : A. Nugroho