KABUPATEN – Serapan gula petani di pasaran masih rendah.Kalah jauh dibanding gula rafinasi (gula khusus untuk industri).Ditengarai ada kebocoran peredaran gula rafinasi, sehingga menghambat peredaran gula petani.Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Malang mengungkapkan, stok gula petani hingga Oktober lalu mencapai 133.868,54 ton.
Itu tersebar di badan urusan logistik (Bulog) dan distributor.Persediaan diperkirakan akan bertambah hingga menjadi 188.618,54 ton lantaran ada produksi tebu 55,7 ton.“Stok gula petani masih banyak karena belum terserap secara optimal di pasaran,” ujar Kepala Dispangtan Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi kemarin.
Sedangkan kebutuhan gula hingga Oktober 24.365,39 ton saja. Dengan demikian, masih surplus 165.253,15 ton.Dengan harga acuan pembelian (HAP) Rp 14,5 ribu per kilogram, sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024.
Dia mengatakan, gula rafinasi seharusnya tidak bocor ke pasar tradisional karena khusus gula industri.Sebab harganya lebih murah dan tampilannya lebih putih, sehingga lebih diminati.Padahal, menurut Mahila, kualitas gula rafinasi tidak selalu lebih unggul dibandingkan gula petani.
Akibatnya, pabrik gula juga mengalami kendala mendistribusikan hasil gilingan.Itu yang sedang dipetakan solusinya oleh Mahila.Dia bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang.
Guna menjaga agar serapan gula petani tidak tergerus, pihaknya mengedukasi masyarakat untuk tidak memakai gula rafinasi.“Meski masih ada konsumen yang memilih gula petani karena kesehatan dan lebih alami, bocornya gula rafinasi harus diperketat lagi,” pungkasnya.(aff/dan)
Editor : A. Nugroho