Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kabupaten Malang Dilanda 188 Bencana Hidrometeorologi, Ternyata Ini Penyebabnya

Mahmudan • Kamis, 6 November 2025 | 18:57 WIB
Ilustrasi Bencana Hidrometeorologi
Ilustrasi Bencana Hidrometeorologi

KEPANJEN - Awal November, Kabupaten Malang sudah dilanda delapan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan angin puting beliung. Kondisi tersebut terekam dalam data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang.

Bencana alam tersebut berdampak terhadap beberapa sektor. Di antaranya 38 rumah terendam banjir, 102 rumah rusak, dua orang luka-luka, dua orang hilang dan masih dalam pencarian hingga kemarin (3/11), dan akses jalan sempat terhambat.

“Sejak Januari sampai Oktober lalu sudah terjadi 352 bencana di Kabupaten Malang,” ujar Koordinator Pusdalops PB BPBD Kabupaten Malang Silvia Verdiana kemarin (3/11). ”Termasuk gempa bumi yang sering terjadi, tetapi dampaknya tidak besar,” tambahnya.

Khusus bencana hidrometeorologi, dia mengatakan, terdapat sekitar 180 kejadian dalam sepuluh bulan, yakni Januari-Oktober 2025. Jika ditambah dengan delapan kejadian pada awal November lalu, terdapat 188 bencana hidrometeorologi. Di antaranya berupa angin kencang, banjir, dan tanah longsor. ”Daerah paling banyak yakni Tirtoyudo dan Singosari, masing-masing terdapat 18 kejadian bencana,” kata dia.

Di antara bencana tersebut, angin kencang kerap terjadi di Kabupaten Malang. Terlebih saat musim hujan. Kecamatan-kecamatan yang paling rawan yakni Pakis, Jabung, Singosari, Karangploso, dan sekitarnya. Sebab, letak geografis wilayah tersebut terdapat di dataran rendah dan dikelilingi gunung.

Dia menjelaskan, memasuki musim hujan memang rawan terjadi bencana hidrometeorologi. Salah satunya karena cuaca buruk. Berdasar peta prakiraan curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat belasan kecamatan yang memiliki curah hujan sangat tinggi.

“Seperti Ngantang, Wonosari, Wagir, Ampelgading, dan Tirtoyudo. Biasanya potensi tanah gerak juga, tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda mengarah ke sana (tanah gerak),” kata penata penanggulangan bencana itu.

Sebagai kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang, Pusdalops PB tetap berkoordinasi dengan pihak terkait. Seperti Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) yang akan melaksanakan identifikasi, asesmen, pembersihan dampak kejadian dan distribusi logistik darurat kepada masyarakat  terdampak.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Di antaranya dengan memeriksa kondisi struktur bangunan, membersihkan dan melestarikan lingkungan sekitar, serta selalu memantau perkembangan informasi terkait kebencanaan dan peringatan dini. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
#BMKG #Kabupaten Malang #TRC PB #Bencana hidrometeorologi