Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Produksi Tebu Triwulan III di Kabupaten Malang Hanya 2,7 Juta Ton

Mahmudan • Jumat, 7 November 2025 | 17:52 WIB
MEROSOT: Seorang petani memanen tebu di Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen beberapa waktu lalu.
MEROSOT: Seorang petani memanen tebu di Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen beberapa waktu lalu.

KEPANJEN - Tebu menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Malang. Akhir 2024 lalu, luas lahan tebu 47.016,9 hektare. Itu sekitar 29,19 persen dari total lahan pertanian di Bumi Kanjuruhan yang mencapai 161 ribu hektare. Namun produksi tebu hingga triwulan ketiga tahun ini belum menyamai produksi tahun lalu.

“Per akhir September 2025, produksi tebu sekitar 2,7 juta ton. Sedangkan tahun lalu sekitar 4,23 juta ton,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera.

Salah satu kendalanya yakni faktor cuaca ekstrem. Hujan terus-menerus berisiko terjadi pembusukan akar tebu dan pertumbuhan bisa melambat. Dia mengatakan, saat ini petani masih berjuang melancarkan panen. Sebab, ketika hujan, lahan menjadi becek dan menyulitkan akses kendaraan petani untuk memanen tebu.

“Kami berjuang bersama-sama untuk memaksimalkan hasil panen tebu. Kalau lahan becek, kendaraan tidak bisa masuk. Jadi terkadang mereka menggunakan motor untuk panen,” kata pejabat eselon II B Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang itu.

Terdapat beberapa varietas tebu yang ditanam petani. Namun yang paling populer yakni varietas Bululawang (BL) yang masak akhir dan pringu yang masak awal. Dua varietas tersebut dinilai unggul dibanding lainnya. Biasanya, tebu yang ditanam sekitar akhir tahun akan dipanen pada pertengahan tahun depan.

Setelah panen, tebu tersebut dikirim ke dua Pabrik Gula (PG) di Malang raya. Yaitu PG Kebonagung di Pakisaji dan PG Krebet Baru di Bululawang. Ada juga yang dikirim ke luar Malang, seperti ke Blitar. Namun pihaknya tidak memiliki data jumlah tebu yang dikirim ke PG di Kabupaten Malang maupun di luar Malang. “Untuk rendemen  sekitar 7 persen. Setelah ada bongkar ratoon, kami berharap rendemen bisa 11 persen,” imbuh Avi.

Bongkar ratoon adalah mengganti tanaman tebu sebelumnya dengan tanaman baru. Sebab, rawat ratoon atau menggunakan tanaman lama untuk produksi hanya efektif dilakukan selama 5-6 tahun. Lebih dari jangka waktu tersebut, produksi tebu akan menurun. Sedangkan, menurutnya, masyarakat menerapkan rawat ratoon sampai 10 tahun. Oleh karena itu, dilakukan bongkar ratoon untuk meningkatkan produktivitas. (yun/dan).

Editor : A. Nugroho
#DTPHP #Pemkab Malang #Kabupaten Malang #pg