KEPANJEN - Masyarakat di Kabupaten Malang seharusnya tidak kesulitan memenuhi kebutuhan beras hingga akhir tahun. Sebab, persediaan diproyeksikan aman, bahkan melebihi kebutuhan alias suprlus. Sehingga masih ada cadangan beras untuk bulan berikutnya.
“Insya Allah persediaan beras aman, meskipun ada Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada akhir tahun,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi beberapa waktu lalu.
Dia menjabarkan, dengan jumlah penduduk 2,75 juta jiwa, kebutuhan konsumsi beras sekitar 22.597 ton. Sedangkan total luas panen hingga saat ini mencapai 3.909 hektare dengan produktivitas 6,61 ton per hektare. Dengan demikian, persediaan sekitar 24.857 ton.
Selain itu, juga ada stok sekitar 8.293 ton dari bulan sebelumnya. Stok itu dari gudang Badan Usaha Logistik (Bulog) dan distributor. Sehingga sampai saat ini ketersediaan beras total diproyeksikan ada 33.150 ton.
“Dengan total kebutuhan beras sekitar 22.597 ton, maka surplus sebesar 10.553 ton,” kata pejabat eselon II B Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang itu.
Dengan masih terdapat hasil panen dari petani, jumlah tersebut cukup untuk konsumsi masyarakat hingga akhir tahun.
”Surplus beras tersebut bisa dijadikan cadangan pangan oleh masyarakat,” imbuhnya. Sehingga pada bulan depan masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhan makanan pokoknya.
Dia menjelaskan, kualitas beras di Kabupaten Malang tergolong premium. Jika dimasak, tekstur nasinya pulen dan rasanya enak. Namun warnanya sedikit kusam. Sebab, belum ada kelompok tani yang memiliki mesin pemutih beras. Sehingga pemasarannya masih kalah dengan beras produksi pabrik besar ternama.
“Kami akan mengusulkan kepada DPRD, bahwa mesin pemutih padi ini dibutuhkan oleh petani,” ucapnya. Namun, akhir-akhir ini, Bank Indonesia (BI) memberikan satu mesin tersebut kepada asosiasi petani padi di Sumberpucung.
Pasokan padi yang diterima oleh penggilingan tidak pernah terlambat. Setiap hari pasti ada yang digiling. Sebab, musim panen bergiliran. Misalnya pekan ini petani di Kepanjen belum panen, bisa jadi petani di Gondanglegi yang sudah panen. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho