KEPANJEN - Potensi bencana hidrometeorologi di Kabupaten Malang cukup besar. Salah satunya yakni banjir. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, wilayah yang berpotensi mengalami banjir ada di 16 kecamatan (selengkapnya baca grafis).
Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Malang Ikhwanul Muslimin menjelaskan, bencana banjir terjadi karena faktor manusia dan alam. ”Banjir itu pemicunya bisa karena perubahan konstruksi sungai. Misalnya terjadi pendangkalan, penyempitan, maupun ada alih fungsi fungsi lahan sawah atau perkebunan menjadi hunian,” ucap Ichwanul yang merangkap Kepala Bagian (Kabag) Kerja Sama Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Malang ditemui beberapa lalu.
Selain itu, banjir juga dipengaruhi anomali cuaca. Misalnya saat musim kemarau malah terjadi hujan. Sebaliknya, musim hujan malah cuaca panas. Curah hujan dengan intensitas tinggi di hulu berpengaruh terhadap peningkatan volume air di hilir.
Ditambah lagi jika di hilir terjadi penumpukan sedimentasi besar-besaran. ”Misalnya karena orang yang membuang sampah di sungai. Sampah tersebut akan berubah menjadi sedimentasi,” kata mantan Camat Kepanjen itu.
Jenis banjir yang terjadi di Malang Selatan dan Malang Barat pun berbeda. Di Malang Selatan itu lebih sering banjir rob yang berasal dari luapan air laut, sedangkan di Malang Barat lebih sering banjir bandang karena sungai.
Sebab, di Malang Barat, kondisi sungai saat musim kemarau biasanya tidak terlalu deras. Kemudian, banyak limbah padat seperti dari bekas penebangan pohon yang berkumpul membentuk semacam tanggul. Ketika hujan, air yang mengalir di sungai jadi tersumbat. Semakin tinggi intensitas hujan, maka semakin besar pula arus air di sungai tersebut.
Akibatnya, tanggul yang terbentuk tersebut semakin tergerus dan kalah dengan aliran air. Sehingga terjadi banjir bandang.
”Kecamatan Sumbermanjing Wetan setiap tahunnya menjadi langganan banjir rob. Kondisi permukaan tanahnya lebih rendah dibanding permukaan air. Saat terjadi banjir rob, pasti air itu mengalir ke laut tapi kembali (ke daratan),” ujar Ichwanul. Ditambah lagi dengan tanah resapan, seperti hutan dengan pohon-pohon yang memiliki akar kuat beralih fungsi. Misalnya, penggantian tanaman yang akarnya kurang mampu menyerap air hujan, seperti pisang dan tebu. Sehingga, resapan berkurang, dan air melimpas ke permukaan.
”Namun, masyarakat sudah cukup tangguh. Mereka direlokasi juga tidak mau karena mata pencahariannya sudah di sana. Sehingga mereka sudah bisa menyesuaikan diri,” imbuhnya.
Dalam mengatasi permasalahan banjir tersebut juga dibutuhkan kesadaran masyarakat. Seperti tidak membuang sampah di sungai, dan tidak melakukan penggundulan hutan besar-besaran. Sedangkan dari pemerintah bertugas reboisasi serta melakukan normalisasi sungai seperti di Sungai Tundo di Kecamatan Tirtoyudo, aliran Sungai Metro, Sungai Seco, Sungai Sukun, kemudian Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. (yun/adn)
Editor : Aditya Novrian