SINGOSARI – Per kemarin (30/11), status aktivitas Gunung Semeru sudah turun dari level awas menjadi siaga. Tapi pasukan dari Divisi Infanteri (Divif) 2 Kostrad, Singosari masih berada di Lumajang untuk rehabilitasi keadaan pasca-erupsi.
Seperti diberitakan, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu erupsi pada 19 November lalu. Erupsi dengan penampakan turunnya awan panas, lava pijar dan lahar dingin terus menghantui warga tiga desa di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo, Lumajang.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, aktivitas gunung dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu telah menurun.
”Per Sabtu sore (29/11) status sudah Siaga (level 3) dari sebelumnya Awas (level 4). Tapi masih ada letusan disertai suara gemuruh lemah hingga sedang,” kata dia. Terpantau ada 33 letusan, 4 guguran dan 8 embusan dari puncak Semeru.
Pihaknya merekomendasikan agar tidak ada aktivitas di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 17 kilometer dari puncak. Sekaligus nihil aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi dilanda perluasan awan panas dan aliran lahar.
“Di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat itu waspada awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah. Berlaku juga pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai yang Besuk Kobokan itu,” ujar dia.
Di saat yang sama, 651 prajurit masih di lokasi. Mereka diterjunkan sejak 22 November lalu. Pangdivif 2 Kostrad Mayjen TNI Susilo mengatakan, dari total jumlah pasukan tersebut, separo atau 325 prajurit sudah ditarik lagi. Sisanya sekitar 326 personel masih menjalani pekerjaan di Lumajang. ”Salah satunya pemulihan di Supiturang,” kata dia.(biy/dan)
Editor : A. Nugroho