MALANG — Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Malang masih tergolong tinggi dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, legislatif, hingga kalangan pengusaha dinilai harus bergerak bersama untuk menuntaskan persoalan ini.
DPRD Kabupaten Malang mendorong perusahaan-perusahaan di daerah tersebut agar lebih memprioritaskan penyaluran Corporate Social Responsibility (CSR) bagi sektor pendidikan.
Data dashboard ATS Pusdatin Kemendikdasmen mencatat, pada 2025 terdapat 19.960 anak di Kabupaten Malang yang masuk kategori tidak sekolah. Angka ini mencakup anak yang drop out (DO), lulus tetapi tidak melanjutkan (LTM), serta belum pernah bersekolah (BPB).
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Zia Ulhaq, menyebut faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama tingginya ATS. Selain itu, praktik pernikahan dini juga turut memengaruhi.
“Mayoritas karena kendala ekonomi. Untuk akses pendidikan sendiri sebenarnya sudah tersedia, mulai dari jenjang SD hingga SMA di setiap kecamatan,” ujar Ketua Fraksi Gerindra tersebut.
Menurutnya, upaya menekan jumlah ATS membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah pembentukan Tim Sapu Bersih (Saber) ATS oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.
Program Saber ATS dirancang untuk menekan angka anak putus sekolah melalui berbagai intervensi, seperti beasiswa kejar paket A, B, dan C, program orang tua asuh, sekolah rakyat, serta dukungan CSR dari perusahaan.
Hingga saat ini, baru sekitar 450 anak yang berhasil mendapatkan akses pendidikan melalui program tersebut. Jumlah tersebut masih jauh dari total ATS yang mencapai puluhan ribu.
Karena itu, Zia meminta Pemerintah Kabupaten Malang meningkatkan komitmen dalam menangani persoalan ini.
“Dalam setiap rapat bersama dinas, Banggar, maupun TAPD, kami menekankan pentingnya keseriusan menurunkan ATS. Kalau bisa bukan hanya 400, tetapi 1.000 bahkan 5.000 anak selama masa jabatan Pak Bupati,” tegasnya.
Selain mengoptimalkan anggaran APBD, Zia juga mengajak pengusaha di Kabupaten Malang memperluas penyaluran CSR untuk sektor pendidikan, termasuk dalam bentuk beasiswa kejar paket.
“CSR dari perusahaan bisa dioptimalkan oleh Bappeda untuk membantu mengentaskan ATS,” pungkasnya.
Editor : A. Nugroho