KEPANJEN - Diabetes melitus menjadi salah satu penyakit yang paling banyak diderita warga Kabupaten Malang. Itu terlihat dari daftar klaim di BPJS Kesehatan Cabang Malang. Mulai Januari sampai Oktober tahun ini, total ada 114.287 kasus diabetes yang diklaimkan.
Nilai klaim atau pembiayaan dari BPJS mencapai Rp 60,7 miliar. Jumlah itu lebih sedikit ketimbang nilai klaim pada 2024, yang mencapai Rp 82,6 miliar.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang Yudi Wahyu Cahyono menyebut bahwa kasus diabetes di Kabupaten Malang terbanyak ketiga di Jawa Timur. ”Nomor satu dan dua adalah Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo,” kata Yudi.
Nilai klaim BPJS untuk penyakit diabetes di Kabupaten Malang juga tergolong tinggi dibanding daerah lain di Jawa Timur.
”Angka pembiayaan di Kabupaten Malang itu tertinggi keempat se-Jawa Timur. Di atas Kabupaten Malang ada Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Malang,” sebut dia.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 3 Tahun 2023 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.
Proses klaim akan dimulai setelah adanya tindakan dari fasilitas kesehatan (faskes) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. ”Proses klaim maksimal 15 hari sejak berkas diterima lengkap. Di dalamnya ada identitas dan riwayat pelayanan,” ujar Yudi.
Dari data BPJS pula, diketahui bahwa diabetes menjadi penyakit tertinggi kedua dalam nilai klaim. Posisi pertama masih ditempati penyakit jantung. Di bawah diabetes, ada penyakit stroke, kanker, dan gagal ginjal yang memiliki nilai klaim tinggi.
Diabetes memang bukan tergolong sebagai penyakit katastropik atau penyakit serius yang dapat mengancam jiwa. Akan tetapi, jumlah penderitanya termasuk salah satu yang paling banyak di antara penyakit berbahaya lainnya. Bahkan, jumlahnya cenderung meningkat karena tren gaya hidup tidak sehat.
Dalam penyakit itu, ada jenis diabetes melitus tipe 1 yakni penderita mendapat turunan penyakit alias genetik. Sementara diabetes miletus tipe 2 adalah mereka mengidap karena pola hidup. ”Kebanyakannya yang ditangani diabetes tipe 2 pada kasus-kasus yang ditemukan,” ucap Yudi.
Untuk menekan jumlah kasusnya, sosialisasi kesehatan sangat diperlukan. BPJS Kesehatan sendiri rutin mengadakan Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis).
Kegiatan yang terintegrasi antara peserta, fasilitas kesehatan (Puskesmas/klinik), dan BPJS Kesehatan. Di dalamnya ada tahap edukasi, konsultasi, pemeriksaan rutin, senam, dan pemantauan kesehatan.
Seperti diberitakan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang juga rutin melakukan identifikasi terhadap pasien baru diabetes. Sepanjang 2025 ini, mereka mencatat ada 43.293 pasien baru.
Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo menyebut bahwa angka itu berasal dari rekap pada bulan Januari sampai November. ”Angka tersebut didapat dari jumlah penderita yang diperiksa di Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan (Faskes) milik Pemkab Malang,” kata dia.
Jumlah itu lebih banyak dibanding 2024 lalu. Saat itu dinkes menemukan 35.907 pasien baru. Dokter Wi, sapaan akrabnya menyebut bahwa penderita diabetes yang terdata adalah warga yang berusia antara 15 sampai 60 tahun ke atas. ”Antara 80 sampai 90 persen dari penderita itu berusia 30 tahun ke atas sampai batasnya lansia,” imbuh dia. (biy/by)
Editor : A. Nugroho