Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Permintaan Turun, Harga Kambing di Kabupaten Malang Anjlok Drastis

Bayu Mulya Putra • Kamis, 25 Desember 2025 | 18:45 WIB
AKUI ADA PENURUNAN: Salah satu pengurus Goat Shelter, tempat penggemukan kambing di Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen hendak memberi pakan hewan ternaknya, kemarin.
AKUI ADA PENURUNAN: Salah satu pengurus Goat Shelter, tempat penggemukan kambing di Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen hendak memberi pakan hewan ternaknya, kemarin.

KEPANJEN - Peternak kambing di Kabupaten Malang tengah berada dalam masa sulit. Sebab, harga pasarannya anjlok. Sedikitnya permintaan dan banyaknya stok jadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi adanya impor.

”Harga berat kambing hidup normal yang betina itu Rp 60 ribu per kilogram. Sekarang di kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Untuk yang jantan selisih Rp 5 ribu lebih mahal dari betina,” terang M. Aris Wahyudi, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Peternak Domba dan Kambing Provinsi Jawa Timur, kemarin (24/12) (selengkapnya baca grafis).

Dia menyebut ada empat faktor yang menyebabkan turunnya harga di pasaran. Pertama, karena menurunnya daya beli masyarakat. Masyarakat lebih banyak memilih asupan protein hewani dari telur dan daging ayam.

Update Harga Kambing di Pasaran
Update Harga Kambing di Pasaran

Selama ini, masyarakat juga dihantui kabar bahwa mengonsumsi daging kambing dapat menyebabkan penyakit seperti hipertensi.

Alasan berikutnya karena permintaan pasar yang kian berkurang. Selama ini, permintaan datang dari pasar hewan tradisional, pelaku usaha katering dan aqiqah, hingga Hari Raya Idul Adha.

Juga permintaan dari sesama breeder dan penggemukan hewan. Termasuk di dalamnya, usaha di tingkat hilir seperti rumah makan dan warung. ”Yang rumah makan dan warung, terutama sate itu sudah banyak yang punya ternak sendiri. Selain itu, di pasar yang jual daging potongan juga sedikit,” kata Aris.

Dia mencontohkan di Pasar Kepanjen. Di sana, yang menjual daging kambing hanya dua sampai tiga orang saja. ”Itu saja satu hewan dibagi dua pedagang,” sebut dia. Faktor ketiga yakni adanya penyakit hewan seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Faktor terakhir yakni ketidakseimbangan supply dan demand.

”Sangat banyak peternak baru yang langsung pelihara domba dan kambing skala besar. Tapi, saat panen kesusahan mencari pasarnya,” ucap Aris. Jumlah pasti peternak kambing dan domba memang tidak terdata. Sekalipun di dalam Himpunan. Namun, data terakhir menunjukkan ada 60 orang peternak di dalam HPDI.

Aris mengatakan, potensi jumlah peternak kambing dan domba di Bumi Kanjuruhan bisa lebih dari seribu orang.

”Kalau dimasukkan yang skala rumahan, penggemuk, dan breeder, bisa tembus seribu di seluruh kecamatan. Karena ada banyak desa seperti di Wonosari, Dampit, Tirtoyudo, dan Ampelgading yang hampir semua penduduknya punya ternak kambing,” ungkap dia.

Terkiat isu maraknya daging kambing impor di pasaran, Aris menyebut kalau dulu memang banyak kambing dan domba asal Australia dan Selandia Baru yang masuk ke Indonesia. Salah satunya berjenis boer.

Ide awalnya untuk memperbaiki genetik kambing lokal dengan cara kawin silang, sekaligus mempercepat masa panen. Yang awalnya satu tahunan, menjadi tiga bulanan.

Tapi, dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) di bawah naungan Kementerian Pertanian (Kementan) sudah menurunkan rekomendasi agar impor dihentikan per Desember 2024 lalu. ”Tapi masih banyak pemain besar yang menghabiskan kuota impornya. Itu membuat harga makin tidak terkontrol,” keluh dia.

Di satu sisi, daging kambing impor itu harusnya hanya dijual di hotel, restoran, dan kafe. Namun yang dia saksikan, daging-daging itu bisa tembus ke pasar tradisional. Sepinya permintaan pasar juga dirasakan Goat Shelter, tempat ternak khusus penggemukan kambing di Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen.

Saat didatangi Jawa Pos Radar Kanjuruhan kemarin, kandang tersebut baru kedatangan lima ekor kambing jenis Jawa Randu. Di dalamnya, masih ada sekitar 10 kambing yang sedang digemukkan. ”Yang baru ini masih menunggu pembeli, kalau yang di dalam ini untuk stok saja,” kata Bayu Anan Firmansyah, salah satu pengurus ternak di sana.

Selain memenuhi permintaan lokal untuk aqiqah, peternakan tersebut juga sering mengirim kambing ke Kalimantan dan Sulawesi. Setidaknya, sekali kirim bisa 200 sampai 250 ekor. Namun, setelah bulan Oktober lalu, belum ada permintaan lagi. ”Kebanyakan yang kirim ke sana itu untuk sate.

Menurut mereka kualitas di Jawa beda dengan (kambing) asli sana,” kata Bayu. Disinggung soal harga, dia menyebut bahwa sekarang sedang masa-masa murahnya. Berada di kisaran Rp 1,6 juta untuk satu ekor kambing jenis Jawa Randu. ”Kalau Idul Adha bisa tembus Rp 2 juta. Selain itu harganya naik turun mengikuti pasar,” ujar dia. (biy/by)

Editor : A. Nugroho
#Ditjen PKH #PMK #Kabupaten Malang #dpd