GEDANGAN - Kegiatan konservasi kembali dilakukan di Malang Selatan. Tepatnya di Pantai Bajulmati, di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan. Sabtu lalu (27/12), kegiatan pelepasan tukik atau anakan penyu dilakukan oleh Perhutani KPH Malang. Mereka bekerja sama dengan tim Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC) Malang.
Administratur Perhutani KPH Malang Kelik Djatmiko menyampaikan, pelepasan tukik sudah menjadi salah satu bentuk kolaborasi pihaknya dan BSTC. ”Ini menjadi agenda rutin yang terus kami lakukan. Supaya penyu semakin berkembang di laut,” kata dia.
Selain itu, bentuk kolaborasi lainnya yakni dengan memberikan fasilitas tempat penyelamatan penyu. Luas lahannya kurang lebih dua hektare. Keamanannya juga selalu didukung. Lebih lanjut, Ketua Umum BSTC Sutari menyebut, tukik yang dilepas Sabtu lalu (27/12) berjumlah sekitar 200 ekor. Berasal dari jenis penyu hijau dan lekang.
Mereka baru menetas dua pekan yang lalu. ”Sepanjang 2025 ini, sudah ada 10 ribu ekor tukik yang kami lepas,” kata dia. Sutari menyebut, penyu adalah hewan yang selalu bermigrasi dan menetas di pantai.
Oleh karena itu, hampir setiap hari tim BSTC menyusuri pantai untuk mencari telur-telur penyu untuk diselamatkan, kemudian direlokasi. Begitu tiba di tempat konservasi, telur-telur tersebut akan diinkubasikan selama 45 sampai 65 hari.
Ketika menetas, tukik akan dikarantina beberapa hari sebelum dilepaskan. ”Penyu tidak bisa dipelihara, karena bisa merusak instingnya dan muncul sifat ketergantungan,” ucapnya. Dia juga menyebut bahwa konservasi penyu dapat menyelamatkan ekosistem laut. Penyu akan memakan alga yang menutup terumbu karang.
Sehingga terumbu karang dapat kembali berpori. Terumbu karang tersebut mampu menahan gelombang air laut serta dijadikan tempat bersembunyi ikan-ikan. Ketika terumbu karang semakin banyak, maka ikan juga semakin banyak. Dengan demikian, ekosistem laut dapat terjaga.
Diah Indayati, 50, salah satu pengunjung terkesan dengan acara pelepasan penyu tersebut. Dia banyak mendapat pengetahuan baru terkait penyu. ”Penyunya juga tidak boleh dipegang sembarangan supaya tidak terkontaminasi kuman. Kalau ada (kegiatan) lagi, saya akan mengajak anak saya,” pungkas perempuan asal Kecamatan Dau itu. (yun/by)
Editor : A. Nugroho