Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Wisatawan Natal dan Tahun Baru di Kabupaten Malang Sumbang 4,8 Ribu Ton Sampah

Mahmudan • Sabtu, 3 Januari 2026 | 15:35 WIB
JUMLAH BERTAMBAH: Kendaraan melintasi tumpukan sampah di kawasan Gondanglegi, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu. Selama nataru, volume sampah meningkat 15-20 persen.
JUMLAH BERTAMBAH: Kendaraan melintasi tumpukan sampah di kawasan Gondanglegi, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu. Selama nataru, volume sampah meningkat 15-20 persen.

GONDANGLEGI – Malang raya masih menjadi pilihan warga untuk menghabiskan musim libur natal dan tahun baru (nataru). Hal itu terlihat dari peningkatan volume sampah di Bumi Kanjuruhan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang mencatat, volume sampah untuk hari biasa berkisar 1.200 ton. Namun khusus libur nataru meningkat sekitar 15-20 persen, sehingga menjadi sekitar 1.400 ton sampah. Peningkatan terjadi sejak 25 Desember 2025 lalu. Dalam kurun sepekan, 25 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, DLH mencatat 11,2 ribu ton sampah yang diproduksi wisatawan nataru.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman menyampaikan timbunan sampah saat Nataru berasal dari sektor wisata dan pasar. Untuk itu dirinya menyiagakan tambahan truk dan personel yang mengondisikan sampah.

Total ada 5 tambahan truk pengangkut dan 20 tambahan personel untuk mengondisikan sampah sepanjang nataru. “Seperti biasa, nanti sampah yang terkumpul dibagi di tiga TPA, yaitu TPA Paras Poncokusumo, TPA Talangagung Kepanjen, dan TPA Randuagung Singosari,” ujar pria yang akrab disapa Avi itu.

Sampah itu diolah menggunakan sistem controlled landfill yaitu sampah ditimbun, diratakan, dipadatkan, kemudian pada waktu tertentu ditutup lapisan tanah. Untuk menanggulangi sampah yang belum diolah, Avi memaksimalkan pengurangan sampah dengan cara memberdayakan 300 bank sampah dan 50 TPS3R. Sampah-sampah itu biasanya disetorkan ke pengepul atau diolah menjadi kompos hingga produk kriya.

Sebab anggaran pengolahan sampah dari APBD terbatas dan belum memungkinkan membangun TPA lagi. “Tahun ini anggaran kami dipangkas 50 persen,” lanjutnya.

Sebab pada 2025, total anggaran untuk DLH masih di angka Rp 30 miliar. Namun tahun ini DLH hanya dijatah Rp 15 miliar saja. Keterbatasan dana membuat DLH memutar otak untuk tetap mengelola sampah dengan maksimal.

Rencana peremajaan TPA juga bisa terancam batal. Untuk itu dirinya memaksimalkan penyaringan sampah masuk TPA  melalui bank sampah dan TPS3R. Sejauh ini cara tersebut sudah efektif mengurangi sampah masuk TPA hingga 14 persen. Total ada 168 ton sampah tiap hari yang berhasil disisihkan. “Kami akan maksimalkan pembiayaan melalui CSR untuk pengelolaan sampah,” pungkasnya. (aff/dan)

Editor : A. Nugroho
#Kabupaten Malang #DLH #plt #Nataru