Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sejak Masa Kolonial RS Sumber Sentosa Jadi Jujukan Berobat Masyarakat Lereng Bromo

Mahmudan • Kamis, 8 Januari 2026 | 09:57 WIB
DESAIN KLASIK: Bangunan RS Sumber Sentosa di Jalan Raya Kebonsari, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang tampak luar kemarin. Foto kanan, seorang perawat melintasi salah satu ruang perawatan di RS
DESAIN KLASIK: Bangunan RS Sumber Sentosa di Jalan Raya Kebonsari, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang tampak luar kemarin. Foto kanan, seorang perawat melintasi salah satu ruang perawatan di RS

Tangani Penyakit Kuning hingga Tragedi Tandak Ludruk

 

KESAN kolonial masih terasa di RS Sumber Sentosa, Jalan Raya Kebonsari, Tumpang, Kabupaten Malang. Konstruksi bangunan kokoh, desain klasik dan banyak pilar, khas arsitektur Belanda.

Desain dan konstruksi bangunan RS Sumber Sentosa memang tidak jauh berbeda dibanding RS lain yang berdiri di masa kolonial. Fasilitas dan layanan kesehatannya juga hampir sama. Namun RS Sumber Sentosa mempunyai kekhasan, yaitu menjadi jujukan berobat masyarakat lereng Gunung Bromo.

Maklum, Sumber Sentosa merupakan RS pertama di Malang timur. Mulanya berupa poliklinik. Berdiri pada 2 Desember 1937, kemudian berkembang menjadi RS. Informasi tersebut tercantum dalam surat kabar De Indische Courant yang terbit 12 November 1931.

DESAIN KLASIK: Bangunan RS Sumber Sentosa di Jalan Raya Kebonsari, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang tampak luar kemarin. Foto kanan, seorang perawat melintasi salah satu ruang perawatan di RS
DESAIN KLASIK: Bangunan RS Sumber Sentosa di Jalan Raya Kebonsari, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang tampak luar kemarin. Foto kanan, seorang perawat melintasi salah satu ruang perawatan di RS

Namun sumber lain mengungkap bahwa RS Sumber Sentosa berawal dari unit kesehatan milik Yayasan Pelayanan Kasih Agustinian dari Kerahiman Allah. Yayasan tersebut berpusat di Ketapang, Kalimantan Barat.

Awal beroperasi, gedungnya juga tidak sebesar sekarang. ”Dulu yang difungsikan sebagai bangunan rumah sakit hanya bagian yang sekarang menjadi rawat inap,” ujar Albertha Suprihatin, perawat senior RS Sumber Sentosa.

 Di dalamnya terdapat fasilitas seperti laboratorium, biara Ordo Santo Agustinus, dan asrama puteri. Selain dari segi fasilitas yang masih terbatas dan digunakan bersamaan untuk kebutuhan para suster, kala itu tenaga kesehatan (nakes) yang membantu juga terbatas.

Dengan kapasitas 50 tempat tidur, yang mengelola baru dr Iskandar Kosasih yang merupakan direktur rumah sakit. Iskandar menjadi dokter satu-satunya yang menangani pasien pada awal berdirinya RS Sumber Sentosa.

Dia dibantu empat perawat. Salah satunya adalah Albertha. ”Meskipun tenaga dokter hanya satu, tapi kami menangani berbagai masalah kesehatan. Misalnya penyakit kuning atau hepatitis pada anak,” sebut Albertha.

Selain penyakit kuning, yang paling diingat adalah saat RS menangani rombongan tandak ludruk. Rombongan tandak ludruk yang berjumlah 30 orang datang dengan satu truk. Mereka turun dari kawasan Ranupane dan mengalami kecelakaan. ”Jadi waktu datang ke sini ya wajahnya masih menggunakan make-up,” sambung Albertha.

Tidak semua anggota rombongan terluka. Namun yang dirawat sejumlah 15 orang. Alhasil, kondisi RS menjadi penuh layaknya pengungsian. Apalagi pihak RS yang terkenal dengan nama rumah sakit londo itu juga harus menangani pasien lain. Sebab setiap hari, rumah sakit selalu penuh pasien.

Selain dari Ranupane, para pasien juga berasal dari kawasan di sekitar seperti Nongkojajar dan Ngadas. Bahkan pasien-pasien yang tinggal di lereng gunung punya jadwal khusus untuk berobat. Mereka rutin minta disuntik. Ada pula pasien yang datang dari Kota Batu.

Sering kali pasien yang datang menjadikan RS Sumber Sentosa sebagai opsi terakhir setelah tidak menemukan solusi berobat di RS lain. "Ada juga yang tidak mau diobati jika bukan diobati langsung oleh dokter Iskandar,” ucap Albertha.

Kenangan lain yang masih diingat Albertha adalah sosok almarhum Suster Theresia Tembaga. Sang suster dikenal sabar, tapi bisa tegas jika pasien bandel. Pernah RS kedatangan pasien yang luka parah. Pasien tersebut sempat tidak mau dirawat karena khawatir dengan biaya.

"Dia bilang, kulo niki mboten nggadah yatra suster (saya ini tidak punya uang suster). Namun suster menyuruh warga yang terluka diam dan tetap memberikan perawatan," cerita Albertha.

Saat pasien sembuh, suster hanya bertanya warga itu memiliki apa. Warga lantas menjawab bahwa dia hanya memiliki satu tundung pisang. Lalu Suster Theresia memberi kelonggaran dengan pasien membayar pengobatan menggunakan pisang. ”Suster juga tetap meminta pasien itu kontrol rutin ke rumah sakit,” kata dia.

Dalam perjalanannya, RS Sumber Sentosa tidak hanya menangani pasien dari kalangan atas. Ada pula dari kalangan prasejahtera. Tak jarang pasien meninggalkan KTP jika tidak mampu membayar. ”Sampai-sampai KTP pasien di bagian administrasi menumpuk. Sampai sekarang, RS mengandalkan donasi untuk operasional,” terangnya.

Dengan banyaknya kelonggaran untuk pasien prasejahtera, RS Sumber Sentosa tidak mampu merekrut banyak dokter spesialis. Hingga kini hanya ada empat pelayanan spesialis dasar yakni spesialis orthopedi, spesialis mata, spesialis saraf, dan spesialis paru. Ditambah dokter umum.

"Namun ke depan kami ingin mengembangkan layanan," ujar Direktur RS Sumber Sentosa dr Yohanes Kusumo Adi Arji Atmanto.

Layanan yang ingin dikembangkan adalah spesialis jantung, spesialis THT, spesialis rehab medik, hingga spesialis jiwa. Pihaknya juga ingin membangun ruangan baru untuk melengkapi ruangan-ruangan yang sudah ada seperti farmasi, kasir, dan poli. (*/dan)

Editor : Aditya Novrian
#lereng gunung bromo #malang #layanan kesehatan #kolonial