Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Panen Perdana Padi Organik di Kabupaten Malang Tembus hingga 12 Ribu Ton

Aditya Novrian • Kamis, 8 Januari 2026 | 11:02 WIB
PERDA NA: Combine harvester memanen padi organik hasil pengembangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Desa Tanggung, Kecamatan Turen, kemarin pagi.
PERDA NA: Combine harvester memanen padi organik hasil pengembangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Desa Tanggung, Kecamatan Turen, kemarin pagi.

TUREN – Upaya mendorong swasembada pangan nasional mulai terlihat di Kabupaten Malang. Padi organik hasil pengembangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dipanen perdana di Desa Tanggung, Kecamatan Turen dengan hasil mencapai 12 ton per hektar kemarin (7/1) padi.

Panen tersebut merupakan hasil kolaborasi HKTI Kabupaten Malang dengan Pemkab Malang. Produksi yang dicapai jauh melampaui rata-rata panen padi di wilayah ini yang selama ini berada di kisaran 7–8 ton per hektare.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HKTI Kabupaten Malang Makhrus Sholeh mengatakan, panen di Turen masih bersifat uji coba. Bibit padi organik yang ditanam pun belum diberi nama karena masih dalam tahap penelitian dan pengembangan.

”Ini baru uji coba pertama. Bibitnya juga belum kami beri nama karena masih terus kami kembangkan,” ujar Makhrus seusai panen.

Menurut dia, padi organik tersebut memiliki sejumlah keunggulan. Proses budidayanya dilakukan tanpa menggunakan pestisida maupun pupuk kimia, sehingga hasilnya lebih sehat. Dari sisi produktivitas, jumlah bulir per tanaman juga lebih banyak dibanding padi konvensional.

”Kalau padi biasa rata-rata sekitar 250 bulir per tanaman, padi organik ini bisa mencapai 500 bulir. Tanamannya juga lebih tinggi,” jelasnya.

Melihat hasil yang cukup menjanjikan, HKTI berencana memperluas pengembangan bibit padi organik ke kecamatan lain di Kabupaten Malang. Tidak hanya fokus pada budidaya, HKTI juga menyiapkan kerja sama di sektor pemasaran agar hasil panen petani terserap optimal.

”Program pengembangan pertanian kami ada empat, mulai dari bibit unggul, pemupukan, pengairan, hingga pemasaran. Kalau keempatnya berjalan maksimal, pasokan komoditas pertanian bisa meningkat,” kata Makhrus.

Selain itu, HKTI juga ingin mendorong keterlibatan generasi muda di sektor pertanian. Pengembangan pertanian dan perkebunan, termasuk budidaya buah-buahan, dinilai memiliki potensi besar untuk digarap petani milenial.

Sementara itu, Bupati Malang H M. Sanusi menyambut baik capaian panen padi organik tersebut. Ia menyebut, Pemkab Malang terus membuka kerja sama dengan berbagai pihak untuk menghadirkan bibit-bibit unggul yang mampu meningkatkan produktivitas.

”Rata-rata panen kita saat ini 7 sampai 8 ton per hektare. Dengan bibit unggul seperti ini yang bisa mencapai 12 ton, tentu sangat membantu,” ujar Sanusi.

Selain padi organik hasil kolaborasi dengan HKTI, Pemkab Malang juga tengah mengembangkan bibit padi Sukma yang mampu menghasilkan minimal 10 ton per hektare. Ke depan, intensifikasi pertanian akan terus dilakukan.

”Kalau bisa konsisten di angka 10 sampai 12 ton per hektare, kami berharap produksi padi di Kabupaten Malang bisa meningkat hingga 40 persen,” pungkasnya. (yun/adn)

Editor : Aditya Novrian
#DPC #Padi Organik #hkti #Kabupaten Malang