Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menengok Aktivitas Belajar Mengajar SDN 4 Sukowilangun Kabupaten Malang yang Mengungsi Sementara di Rumah Warga

Aditya Novrian • Jumat, 23 Januari 2026 | 10:01 WIB
RUANG PALING PENGAP: Siswa kelas empat SDN 4 Sukowilangun menyimak penjelasan guru kemarin. Mereka mengungsi sementara di dapur milik rumah warga.
RUANG PALING PENGAP: Siswa kelas empat SDN 4 Sukowilangun menyimak penjelasan guru kemarin. Mereka mengungsi sementara di dapur milik rumah warga.

Ruang Pengap Jadi Ujian Kesabaran Siswa Kelas Empat

 

BEL istirahat baru saja berbunyi ketika puluhan siswa SDN 4 Sukowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, berhamburan keluar kelas, Selasa (20/1) lalu. Ada yang berlarian kecil sambil menggenggam uang jajan, ada pula yang sekadar duduk di sudut teras, mengipas-ngipas wajah mereka yang berkeringat.

Suasana itu sepintas tak berbeda dengan jam istirahat di sekolah dasar lain. Bedanya, ruang belajar mereka bukanlah gedung sekolah. Melainkan sebuah rumah kosong di tengah perkampungan.

Rumah berukuran sekitar 60 meter persegi itu kini menjadi tempat belajar sementara bagi 58 siswa. Di sanalah kegiatan belajar mengajar berlangsung setiap hari.

Garasi disulap menjadi ruang kelas tiga yang diisi 18 anak. Ruang makan atau dapur di bagian belakang ditempati 25 siswa kelas empat. Sementara ruang tamu di bagian depan digunakan oleh 15 siswa kelas lima.

Papan tulis menempel seadanya di dinding, bangku dan meja disusun rapat agar semua kebagian tempat. Dari ketiga ruangan itu, garasi dan ruang tamu masih cukup nyaman. Cahaya matahari masuk dari celah-celah pintu dan jendela, sirkulasi udara relatif lancar.

Berbeda dengan ruang makan yang berada di bagian paling belakang rumah. Cahaya minim, udara terasa lebih pengap. Di ruangan itulah siswa kelas empat bertahan mengikuti pelajaran sejak pagi.

”Kalau siang agak panas, tapi anak-anak sudah terbiasa,” ujar Kepala SDN 4 Sukowilangun Sugiono. Sugiono bercerita, rumah tersebut milik kepala dusun sekaligus komite sekolah yang sudah lama tidak ditempati.

Setelah berkoordinasi dan mendapat izin, pihak sekolah memanfaatkannya sebagai ruang belajar darurat. Keputusan itu diambil bukan tanpa pertimbangan panjang. Kondisi gedung sekolah memang tak lagi memungkinkan untuk digunakan.

Kerusakan bangunan mulai terlihat sejak September 2025. Awalnya, plafon di salah satu ruang kelas tampak turun. Saat diperiksa, rangka atap diketahui hampir patah dan membuat atap melengkung.

Meski demikian, aktivitas belajar masih tetap berlangsung. Para guru memilih bertahan sambil terus memantau kondisi bangunan. ”Awalnya kami kira masih aman. Tapi lama-lama plafon makin turun,” kata Sugiono, pria berusia 58 tahun itu.

Kondisi paling parah terjadi di ruang kelas enam. Atapnya terlihat paling melengkung dan berisiko runtuh. Setelah berdiskusi dengan para guru, pihak sekolah memutuskan memindahkan siswa kelas enam ke musala agar pembelajaran tetap berjalan dengan aman. Sementara ruang kelas lain dan kantor guru masih dipakai.

Namun kekhawatiran terus menghantui. Guru-guru mulai memikirkan kemungkinan terburuk. Jika bangunan benar-benar ambruk, keselamatan siswa menjadi taruhannya. Setelah rapat bersama komite sekolah, keputusan diambil.

Siswa kelas tiga, empat, dan lima dipindahkan ke rumah kosong tersebut. Perpindahan dilakukan saat libur semester, sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar. ”Kami hanya memindahkan kelas tiga, empat, dan lima. Kelas satu, dua, dan enam tetap di gedung sekolah,” jelas Sugiono.

Penataan ulang pun dilakukan. Ruang kelas satu dialihfungsikan menjadi kantor guru. Siswa kelas satu yang berjumlah 14 anak menempati ruang kelas tiga. Sementara siswa kelas dua belajar di perpustakaan. Adapun siswa kelas enam tetap berada di ruang kelas dua karena sedang bersiap menghadapi ujian, sehingga membutuhkan suasana yang lebih kondusif.

Pertimbangan lain juga menyangkut usia siswa. Anak-anak kelas satu dan dua dinilai masih memerlukan pengawasan ekstra. Rumah yang dijadikan ruang belajar sementara tidak memiliki gerbang, sehingga anak-anak bisa dengan mudah keluar masuk area. Demi keamanan, siswa usia dini tetap dipertahankan di lingkungan sekolah.

Perpindahan itu resmi dilakukan pada Senin (5/1), bertepatan dengan awal masuk semester baru. Setiap pagi, siswa tetap datang ke gedung utama sekolah. Mereka mengikuti pembiasaan seperti biasa. Senin digunakan untuk upacara bendera.

Selasa hingga Kamis diawali dengan salat duha. Jumat dan Sabtu diisi dengan senam pagi. Setelah itu, barulah siswa kelas tiga, empat, dan lima berjalan bersama menuju rumah belajar.

Guru-guru pun menjalani ritme yang sama. Mereka tetap absen di gedung utama setiap pagi, lalu berpindah ke rumah belajar saat jam pelajaran dimulai. Saat istirahat, guru tetap berada di rumah untuk mengawasi siswa. Seusai jam sekolah, barulah mereka kembali ke kantor.

Belum genap sepekan siswa menempati rumah belajar, kekhawatiran para guru terbukti. Pada Minggu (11/1) malam, bangunan sekolah yang plafonnya melengkung itu ambruk. Hujan deras disertai angin melanda Desa Sukowilangun malam itu. Atap dan plafon runtuh, meninggalkan puing-puing di ruang kelas empat, lima, enam, serta kantor guru.

Peralatan belajar mengajar masih banyak tertinggal di dalam gedung. Lemari, bangku, dan meja yang belum sempat dipindahkan tertimbun reruntuhan. Beruntung, peristiwa itu terjadi malam hari saat sekolah kosong. Tidak ada korban jiwa.

Selasa (20/1), reruntuhan bangunan mulai dibersihkan. Sekitar 400 orang bergotong royong dalam kerja bakti tersebut. Wali murid, komite sekolah, pemerintah desa, hingga jajaran Pemkab Malang turun tangan membantu. Puing-puing diangkat, sisa bangunan dirapikan agar area sekolah kembali aman.

Sugiono mengaku lega karena keputusan memindahkan siswa lebih awal terbukti tepat. Meski harus belajar di ruang terbatas dengan fasilitas seadanya, keselamatan anak-anak tetap terjaga. Beberapa siswa memang harus duduk di tikar karena keterbatasan bangku dan meja. Namun semangat belajar mereka tak surut.

”Tantangan pasti ada. Tapi yang terpenting anak-anak tetap bisa belajar dengan aman,” ujarnya.

Tahun ini, gedung SDN 4 Sukowilangun yang ambruk itu dijadwalkan akan diperbaiki menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sambil menunggu pembangunan kembali, rumah kosong itu menjadi saksi keteguhan guru dan siswa mempertahankan proses belajar di tengah keterbatasan. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#siswa #Kabupaten Malang #aktivitas belajar #APBD