KEPANJEN – Meski angkanya menurun, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Bumi Kanjuruhan relatif masih tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang mengungkapkan, jumlah pengangguran sekitar 80.790 jiwa. Berkurang 160 jiwa dari sebelumnya 80.950 jiwa.
Menanggapi masih tingginya angka pengangguran di Kabupaten Malang, Bupati Malang H M. Sanusi mengisyaratkan penolakan. Menurut dia, angka pengangguran terlihat besar lantaran banyak pekerja sektor informal tidak terdata.
“Di Kabupaten Malang ada 43 ribu hektare tanaman tebu. Dari jumlah tersebut, ada sekitar 55 ribu pekerja yang menangani bongkar muat tebu. Itu sepertinya belum tercatat sebagai pekerja,” ujar Sanusi dalam menyampaikan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) beberapa waktu lalu.
Selain itu, dia melanjutkan, juga ada pekerja di sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan yang belum terdata. Utamanya bagi buruh yang membantu pemilik lahan atau ternak dalam mengelolanya.
“Kami penghasil produk dari sapi. Ada sekitar 160 ribu sapi di Kabupaten Malang dengan setiap sapi ada satu tenaga kerja,” lanjut politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.
Oleh karena itu, dia berharap pekerja yang membantu di sektor tersebut atau pekerja informal dapat dikategorikan sebagai pekerja, bukan pengangguran terbuka. Sementara berdasarkan data BPS Kabupaten Malang, penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) di Kabupaten Malang terus meningkat.
Dari sebelumnya 2,17 juta pada 2024 menjadi 2,19 juta pada 2025. Dengan demikian, penduduk yang masuk dalam kategori angkatan kerja cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk.
Dari jumlah tersebut, 1,61 juta orang atau 73,86 persen penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja, sedangkan sisanya termasuk bukan angkatan kerja. Angkatan kerja di Kabupaten Malang pada Agustus 2025 terdiri atas 1,53 juta bekerja dan 80.790 orang menganggur.
Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2025 lalu, penyerapan tenaga kerja terbesar yakni dari sektor jasa. Ada 43,72 persen atau 670.413 orang angkatan kerja di sektor jasa. (yun/dan)
Editor : Aditya Novrian