Pengelolaan Situs Bersejarah di Kabupaten Malang Terkendala Sumber Daya Manusia

Galih R Prasetyo • Dipublikasikan Senin, 2 Februari 2026 | 11:30 WIB
BUTUH SUPPORT: Kunjungan wisatawan ke Candi Singosari, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang terlihat sepi, beberapa waktu lalu.
BUTUH SUPPORT: Kunjungan wisatawan ke Candi Singosari, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang terlihat sepi, beberapa waktu lalu.

KEPANJEN - Pengelolaan 19 situs bersejarah di Kabupaten Malang belum maksimal. Khususnya yang berada di beberapa daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Salah satu penyebabnya, akibat keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola.

Koordinator Wilayah (Korwil) Malang Balai Pelestari Kebudayaan (BPK) XI Jawa Timur Imam Pinarko menyampaikan, masing-masing candi maupun situs hanya dijaga kurang dari tiga juru pelihara (jupel). Rata-rata hanya 1-2 jupel, tergantung lokasinya.

Ada juga yang satu juru pelihara mengelola dua candi. Seperti dirinya yang mengelola Candi Kidal dan Jago di Kecamatan Tumpang saat ini. ”Bahkan ada dua situs yang tidak memiliki jupel. Yaitu Situs Jejawar di Ampelgading dan Prasasti Turian Pada atau biasa disebut dengan Watu Godek di Turen,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi itu berbeda dibandingkan dengan daerah lain. Umumnya, memiliki minimal tiga jupel yang bertugas menjaga situs bersejarah sekaligus mempercantik lingkungannya. Tujuannya, supaya lebih menarik wisatawan untuk datang serta belajar di situs tersebut. Lalu, nila-nilai dalam situs tetap terjaga.

Selain itu, jupel juga bertugas memberikan informasi singkat mengenai sejarah dan nilai penting candi kepada pengunjung. Termasuk menjadi pemandu wisata jika diperlukan. ”Tapi, kadang ada juga yang membawa pemandu wisata sendiri, karena jumlah kami memang terbatas,” imbuhnya.

Terbatasnya SDM pengelola situs bersejarah tersebut membuat kunjungan wisatawan turut minim. Seperti Candi Kidal yang jauh dari jalan utama. Kunjungannya per bulan hanya 200-300 orang. Berbeda dengan Candi Singosari yang letaknya di daerah perkotaan.

Kunjungannya bisa ribuan orang per bulan. Saat ini, kunjungan ke candi hanya mengandalkan inisiatif dari guru yang mengajak siswa-siswinya saat kegiatan outing class. Selain itu, juga dari mahasiswa maupun siswa yang sedang ada tugas di candi tersebut.

”Makanya, saya sangat berharap dari pemerintah ikut andil dalam meramaikan candi. Misalnya, dengan mengondisikan sekolah-sekolah untuk berkunjung ke candi yang menjadi warisan budaya ini,” kata dia. Sebab, di candi-candi ada cerita-cerita tentang berdirinya Kabupaten Malang.

Sebagai contoh, Candi Kidal yang menjadi satu-satunya candi di Kabupaten Malang yang memiliki struktur utuh. Di dalamnya juga terdapat relief garudeya yang merupakan lambang negara. (yun/gp)

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang
BPK sdm Korwil Kabupaten Malang