KEPANJEN – Aktivitas kegempaan di wilayah Kabupaten Malang tergolong tinggi sejak awal tahun. Baru memasuki bulan pertama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang mencatat sedikitnya 20 gempa bumi yang berpusat di wilayah Malang. Secara keseluruhan, BMKG mencatat 931 kejadian gempa di kawasan Jawa Timur, Jogjakarta, dan sebagian Jawa Tengah selama Januari.
Gempa terbaru terjadi pada Sabtu (31/1) pukul 09.33. Pusat gempa berada di laut, sekitar 94 kilometer selatan Kabupaten Malang, dengan kekuatan magnitudo 3,86 Skala Richter. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami dan tidak dilaporkan menimbulkan kerusakan.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang Mamuri menjelaskan, mayoritas gempa yang berpusat di Malang terjadi di kawasan laut selatan. Sepanjang Januari, kekuatan gempa-gempa tersebut relatif kecil. ”Sebagian besar gempa yang berpusat di Malang memiliki magnitudo di bawah 5 Skala Richter,” ujarnya.
Menurut Mamuri, tingginya aktivitas gempa di selatan Malang tidak lepas dari kondisi geologis wilayah tersebut. Di kawasan selatan Kabupaten Malang terdapat zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Lempeng Indo-Australia terus bergerak menyusup ke bawah lempeng Eurasia yang berada di atas Pulau Jawa. Proses subduksi inilah yang memicu aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.
Selain gempa yang berpusat di Malang, BMKG juga mencatat satu gempa yang dirasakan masyarakat Malang meski pusatnya berada di luar wilayah. Gempa tersebut terjadi pada Selasa (27/1) pukul 08.20 WIB dengan magnitudo 5,58 Skala Richter. Pusat gempa berada sekitar 28 kilometer timur Pacitan.
Mamuri menjelaskan, seluruh aktivitas gempa tersebut terekam oleh jaringan sensor milik BMKG. Saat ini, BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang mengoperasikan sekitar 24 sensor gempa. Dua di antaranya berada di Kabupaten Malang, yakni sensor Malang Jawa Indonesia (MLJI) dan Gedangan Jawa Indonesia (GEJI). Sensor terdekat lainnya berada di Klakah, Lumajang, dengan kode KLJI.
”Suatu getaran tanah dapat dikategorikan sebagai gempa jika terdeteksi minimal oleh tiga sensor yang saling berdekatan,” jelasnya.
Ia mengakui, wilayah Malang memang masuk kawasan yang berpotensi terdampak gempa besar, termasuk ancaman megathrust di selatan Jawa. Namun demikian, waktu terjadinya gempa besar hingga kini belum dapat diprediksi secara pasti.
Sebagai upaya mitigasi, BMKG terus memperkuat sistem monitoring, pemrosesan data, serta diseminasi informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami agar semakin cepat dan akurat. Edukasi kebencanaan juga rutin diberikan kepada masyarakat, terutama terkait kesiapsiagaan dan evakuasi mandiri. (yun/adn)
Editor : Aditya Novrian