KEPANJEN - Dibanding dengan periode yang sama dalam dua tahun terakhir, jumlah bencana alam di Kabupaten Malang pada bulan Januari lalu tampak meningkat drastis. Total ada 248 kejadian yang dicatat BPBD Kabupaten Malang. Tahun lalu, pada bulan yang sama tercatat ada 48 bencana. Sementara pada Januari 2024 ada 35 kejadian.
Kabid Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan menjelaskan, bencana pada bulan lalu didominasi angin kencang dan tanah longsor. “Selama Januari lalu, longsor sudah terjadi 98 kali.
Angin kencang sebanyak 74 kali,” terang dia. Untuk longsor, kejadian paling banyak terjadi di lima kecamatan. Seperti di Kecamatan Poncokusumo dan Tirtoyudo yang tercatat ada 13 kejadian. Lalu masing-masing 10 kejadian di Kecamatan Lawang, Ngantang, dan Pujon.
Sementara untuk bencana angin kencang, Sadono menyebut paling banyak terjadi di wilayah utara. Yakni di Singosari dan Lawang. Di Singosari, tercatat ada 14 kejadian. Sementara di Lawang ada 8 kejadian. “Lainnya antara 1 sampai 6 kejadian. Di Sumbermanjing Wetan (Sumawe) 6 kejadian sudah tertangani,” sebut dia.
Dibanding dengan rekap bencana pada Januari 2025, tampak komposisinya hampir tidak berubah. Yakni didominasi tanah longsor. Yang pasti, semua kejadian tergolong sebagai bencana hidrometeorologi. Sadono mencermati bahwa kian bertambah tahun ada peningkatan curah hujan.
“Awal tahun ini curah hujannya tergolong tinggi,” sebut dia. Cuaca buruk sejatinya juga sudah diprakirakan BMKG. Cuaca ekstrem itu merupakan dampak aktifnya monsun Asia, pola pertemuan angin atau konvergensi, dan gangguan atmosfer equatorial rossby. Yakni fenomena gelombang atmosfer skala planet yang bergerak ke arah barat di sepanjang wilayah khatulistiwa.
Ditambah lagi, adanya gangguan gelombang atmosfer MJO (Madden Julian Oscillation) atau fenomena cuaca skala besar di wilayah tropis berupa gelombang konveksi (awan dan hujan) yang bergerak ke timur, dari Samudra Hindia ke Pasifik. Itu terjadi dalam kurun waktu 30 sampai 60 hari di wilayah Jawa Timur.
Kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif, yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi itu juga sering disertai petir dan angin kencang. Khusus di Kabupaten Malang, puncak musim hujan juga nyaris berbeda di beberapa kecamatan.
Sebagian besar puncak musim hujan kecuali di Kecamatan Bantur, Gedangan, Sumawe, Tirtoyudo, dan Ampelgading terjadi pada bulan Januari. Sementara di Ampelgading sudah mendapati puncak musim hujannya pada bulan Oktober 2025 lalu. Bantur, Gedangan, Sumawe, dan Tirtoyudo pada bulan November 2025.
Selama bulan Januari, keadaan atmosfer cenderung labil. Waktu itu, terdeteksi konvektif cuaca alias pembentukan awan cumulonimbus dengan skala sedang. Ditambah kandungan uap air yang sangat tinggi dan pertumbuhan badai yang cenderung cepat. “Kondisi serupa diperkirakan masih terlihat sampai 10 Februari nanti,” kata Taufiq Hermawan, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Juanda, Sidoarjo. (biy/by)
Editor : Aditya Novrian