KABUPATEN - Masih banyak rumah di Kabupaten Malang yang belum teraliri listrik. Itu bisa dilihat dari data pemasangan instalasi listrik di PLN UP3 Malang.
Sepanjang 2025 lalu, mereka memasang listrik baru untuk 1.392 pelanggan di Bumi Kanjuruhan. Itu masuk dalam program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) lewat bantuan pasang baru listrik (BPBL).
Program tahunan itu diprioritaskan untuk masyarakat yang tinggal di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Terutama untuk keluarga prasejahtera yang belum menikmati layanan akses kelistrikan.
Sebab, target dari Presiden Prabowo, pada tahun 2029 sampai 2030 mendatang, semua rumah harus teraliri listrik. Manajer PLN UP3 Malang Agung Wibowo menuturkan, di Kabupaten Malang, bantuan tersebut sudah disampaikan sejak bulan Oktober 2025. Kuotanya ada 1.392 pelanggan. Dan, semua sudah rampung dipasang pada akhir tahun.
”Jumlah rumah yang belum teraliri listrik (di Malang Raya) paling banyak memang di Kabupaten Malang,” ujar Agung. Wilayah yang paling banyak menerima bantuan pasang baru listrik itu berada Kecamatan Tumpang.
Total ada 416 pelanggan yang mendapat bantuan tersebut. Jumlah itu mengambil lebih dari 40 persen kuota penyaluran di Kabupaten Malang.
”Semua pelanggan didata langsung dari Kementerian ESDM, PLN regional hanya mengecek kondisi rumah dan menyalurkan saja,” terang Agung. Sambungan listrik gratis yang ditanggung negara itu mencakup biaya instalasi, sertifikat laik operasi (SLO), hingga token perdana.
Namun, listrik tidak gratis selamanya. Sebab, BPBL hanya menyubsidi pemakaian token listrik pertama. Selanjutnya, pelanggan yang mendapat bantuan itu tetap harus membeli listrik seperti biasanya. Sebab BPBL berbeda dengan diskon listrik bulanan yang kerap diluncurkan PLN.
”Khusus penerima bantuan, biaya listriknya ikut harga subsidi,” lanjut Agung. Yaitu, seharga Rp 1.352/kWh. Model listrik yang diberikan secara prabayar, sehingga masyarakat penerima bantuan bisa membeli token listrik sesuai kebutuhan.
Untuk penggunaan pada bulan pertama, rata-rata pemakaiannya hanya 200 sampai 300 jam nyala saja. Masyarakat penerima BPBL juga mendapat tiga titik lampu dan satu kotak kontak. Program itu diharapkan bisa meningkatkan taraf hidup dan kemandirian masyarakat.
Sebab, sebelum ada BPBL, banyak masyarakat mengurangi susut jaring dengan menarik sambungan dari tetangga yang tidak sesuai ketentuan dan regulasi. (aff/by)
Baca Juga: Karier Singkat Bersama Singo Edan, Odivan Koerich Resmi Tinggalkan Arema FC
Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela
Editor : Aditya Novrian