KEPANJEN - Harga cabai rawit mulai melonjak. Salah satunya disebabkan karena cuaca buruk yang terjadi sejak akhir 2025 lalu. Stok di tingkat petani mulai menipis. Begitu pula stok di pasar.
Sebagai informasi, musim penghujan menjadi tantangan bagi petani cabai rawit. Sebab, akarnya cepat membusuk karena kekurangan oksigen saat ada genangan air. Sebelum tumbuh menjadi cabai, bunganya berisiko rontok jika terjadi hujan deras dan angin kencang.
Cabai juga lebih mudah ditumbuhi jamur akibat kelembapan yang tinggi. Penyerapan nutrisinya pun menjadi kurang maksimal. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI Puspa Dewi menyebut, saat ini harga cabai rawit di pasar meningkat hingga Rp 20 ribu per kilogramnya.
“Harga cabai rawit sudah berkisar Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram. Padahal beberapa hari lalu masih Rp 65 ribu per kilogram,” ujar dia saat meninjau harga bahan pokok bersama Pemkab dan Polres Malang di Pasar Kepanjen, Senin lalu (9/2). Berdasar hasil peninjauannya, kondisi cabai juga banyak yang busuk.
“Kami akan pantau distribusinya, mungkin ke depan juga akan ada bantuan untuk proses penyaluran,” imbuhnya.
Yuli, salah satu pedagang cabai rawit di Pasar Kepanjen menyebut, harga cabai rawit saat ini tidak bisa dipastikan. Bahkan bisa berubah dalam hitungan jam. “Misalnya, siang ini harganya Rp 75 ribu, nanti sore bisa Rp 80 ribu. Tergantung pasarnya,” kata perempuan berusia 45 tahun itu.
Kenaikan harga cabai menjelang Ramadan rutin terjadi setiap tahun. Terlebih jika terjadi gagal panen di kalangan petani. Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, harganya bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Kenaikan biasanya terjadi secara perlahan.
Harga umumnya bakal kembali stabil saat pertengahan bulan Ramadan. Tapi bisa kembali melonjak kembali menjelang Hari Raya Idul Fitri. (yun/by)
Editor : A. Nugroho