Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bertambah Dua, Kabupaten Malang Kini Punya Enam Daftar Warisan Budaya Tak Benda

Aditya Novrian • Minggu, 1 Maret 2026 | 10:00 WIB

Bantengan Lereng Semeru yang sempat beraksi di Kecamatan Poncokusumo kini diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).
Bantengan Lereng Semeru yang sempat beraksi di Kecamatan Poncokusumo kini diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).

KEPANJEN - Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) dari Kabupaten Malang bertambah. Dari sebelumnya ada empat, kini menjadi enam budaya.

Penambahan terjadi setelah kesenian Bantengan Lereng Semeru dan Kolok Goblok diresmikan sebagai WBTBI pada 2025. Pada 22 Februari lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan sertifikat WBTBI kepada Bupati Malang H M. Sanusi di Taman Krida Budaya, Kota Malang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Firmando Hasiholan Matondang menyebut, Bantengan Lereng Semeru memiliki cerita yang dikembangkan masyarakat.

”Kelengkapannya ada banyak. Selain banteng, ada monyet, macan, dan lain-lain,” kata dia. Bantengan tersebut hidup dan berkembang di masyarakat lereng Gunung Semeru.

Utamanya di Kecamatan Wajak. Kesenian itu memiliki nilai filosofis, simbol perjuangan, serta makna kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.

Sebagai informasi, setiap bantengan di Kabupaten Malang memiliki ciri khas berdasar lereng-lereng gunung. Bantengan lereng itu terbagi menjadi enam jenis. Yakni bantengan lereng Kawi, Semeru, Arjuno, Kendeng, Tengger, dan Dorowati.

Keenamnya memiliki ciri khusus. Seperti bantengan yang berasal dari lereng Semeru dan Tengger, menggunakan kerangka bambu untuk punggung banteng.

Sementara, bantengan dari lereng Kawi, Dorowati, dan Kendeng tidak menggunakan kerangka. Sedangkan, bantengan lereng Arjuno menggunakan keduanya. Nama bantengan lereng sesuai dengan cerita di Candi Jago.

Di sana terdapat Nandaka Giri yang artinya gunung. Karena hal itu, cerita-cerita bantengan yang ditampilkan biasanya mengambil latar tempat di pegunungan.

Biasanya, dalam cerita tersebut, banteng akan bertarung dengan hewan lainnya. Seperti harimau, kera, dan sebagainya.

”Kalau Kolok Goblok itu makanan khas Poncokusumo yang biasanya disajikan saat ada kegiatan semacam tolak balak,” kata Mando. Misalnya upacara adat, perayaan desa, dan acara ritual tertentu.

Makanan tersebut terbuat dari labu, parutan kelapa, dan gula merah yang dibuat dengan cara dikukus. Sementara itu, menurut data disparbud, sebelumnya ada empat WBTBI Kabupaten Malang.

Yakni Wayang Topeng Malang, Wayang Krucil Malangan, Wayang Kulit Gagrak Malangan, dan Tari Beskalan. (yun/by)

 

Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi

Editor : Aditya Novrian
#budaya #budaya tak benda #warisan budaya