Pasar Desa Sitiarjo Jadi Titik Awal Berbaurnya Warga
SEJAK pukul 14.30, kios-kios untuk pasar takjil di depan Pasar Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan mulai dipersiapkan. Diawali dari tenda berukuran cukup besar milik salah satu pedagang. Beberapa menit berselang, dari jarak 20 meter ke arah barat tampak pedagang lainnya juga mulai bersiap.
Dia menata meja untuk menjajakan kue, gorengan, dan aneka minuman. ”Semakin sore nanti makin banyak yang jualan, ada aneka sosis bakar, burger, sate, dan lain sebagainya,” kata Erni, salah satu penjual takjil saat ditemui Jawa Pos Radar Malang, 27 Februari lalu. Sekilas tak ada yang berbeda dari pasar takjil di sana dengan wilayah lain.
Namun bila diamati lebih jauh, ada sedikit perbedaan. Mayoritas penjual takjil merupakan warga Kristen Protestan. Itu karena wilayah tersebut merupakan desa dengan mayoritas warga beragama Kristen.
”Total ada sembilan pedagang takjil di sini, kadang ada satu yang Muslim. Tapi, hari ini yang kelihatan jualan orang Kristen semua,” tambah perempuan berusia 56 tahun itu.
Warga Muslim dari Desa Sitiarjo cukup terbantu dengan adanya pasar takjil tersebut. Begitu juga dengan warga dari desa sebelah. Seperti Desa Tambakrejo dan Sumberagung yang kerap berbelanja menu buka puasa di sana.
Berdasar data kependudukan tahun 2025 lalu, populasi warga di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumawe berjumlah 6.969 orang. Mereka semua tinggal di empat dusun. Yakni Dusun Rowotrate, Krajan Tengah, Krajan Kulon, dan Dusun Krajan Wetan.
Dari total populasi itu, 80 persennya beragama Kristen Protestan. Sisanya 20 persen merupakan warga beragama Islam. Warga Muslim di Sitiarjo banyak ditemui di Dusun Krajan Tengah, di area sekitar pasar. Di sana ada Masjid Baitul Mutadin. Ada juga masjid di sebelah timur desa yang berbatasan dengan Desa Kedungbanteng itu.
Sejak dibuka sebagai desa pada 1896 lalu oleh Garta Ngastawa dan Pendeta D. Louwerier, Sitiarjo menjadi wilayah pusat persebaran Kristen di Malang selatan. Sedangkan untuk warga Muslim, Doni Ikmawan sebagai Ketua RW 11 Desa Sitiarjo menyebut bahwa kedatangannya paling belakangan.
Semuanya berawal dari kegiatan berdagang di pasar desa. Dulu, pasar desa berada di sekitar Jembatan Sitiarjo. Namun sejak Agustus 1990 lokasinya berpindah. ”Kakek saya cerita, tahun 1922 itu masih belum ada warga Muslim. Mereka baru datang setelah Indonesia merdeka. Dimulai dari berdagang di pasar itu,” terang Doni.
Lama kelamaan, warga Muslim yang datang dari desa tetangga itu nyaman dan menetap di sana. Dia juga menikah dengan warga asli Sitiarjo. Pernikahan itulah yang perlahan menjadi populasi Muslim dari warga pribumi Sitiarjo.
Berbaurnya masyarakat itu juga menjadi kunci toleransi bagi warga. Dalam bulan Ramadan yang nyaris bersamaan jelang Hari Raya Paskah, banner ucapan selamat menunaikan ibadah puasa banyak terpasang di ruang-ruang publik. ”Di sini cuma tidak ada warung yang ditutup gorden seperti di wilayah lain. Katakan lah di sini ujian puasanya lebih terasa,” kata Kades Sitiarjo Mamiek Misniati.
Di sana ada satu tradisi yang tetap berjalan jelang peringatan keagamaan. Yaitu ater-ater, atau mengantar suguhan makanan ke tetangga dan kerabat. ”Kalau mau puasa, atau mau Natal pasti ada kirim-kirim makanan. Di sini tidak memandang agamanya apa,” tambah Mamiek.
Kegiatan warga Muslim pun berjalan seperti biasa. Seperti sekolah, mengaji, azan, dan membangunkan sahur lewat pengeras suara di musala atau masjid. Di beberapa kesempatan, pengurus gereja di sana juga menggelar acara bagi-bagi takjil kepada pengendara yang lewat. ”Tahun lalu masih kami gelar itu,” imbuh dia. (*/by)
Editor : A. Nugroho