ARAH jarum jam menunjukkan pukul 11.45, Jumat lalu (6/3). Suara azan samar-samar terdengar dari jauh. Di Dusun Ngadas, Desa Ngadas tidak banyak masjid. Hanya ada satu masjid. Namanya Masjid Al Ashafiya.
Meski azan berkumandang, aktivitas warga berjalan seperti biasa. Tak banyak yang berangkat ke masjid untuk menunaikan salat Jumat, lazimnya desa lain di Bumi Arema. Maklum, musim di Ngadas termasuk minoritas.
”Islam hanya 40 persen. Penduduk di sini (Dusun Ngadas) mayoritas beragama Buddha,” ujar Kepala Desa (Kades) Ngadas Mujianto ditemui Jawa Pos Radar Malang di rumahnya, Jumat lalu (6/3)
Warga Ngadas yang mayoritas bersuku Tengger itu memeluk agama Buddha sejak awal Orde Baru. Mulanya mereka menganut kepercayaan Kapitayan.
“Pokoknya dulu itu ada aturan bahwa semua orang harus punya agama. Akhirnya orang sini pilih Buddha,” katanya.
”Dulu di Ngadas ada rumah ibadah namanya Sanggar Pamujan. Miliknya orang Kapitayan,” tambah pria berusia sekitar 50 tahun itu.
Kewajiban warga mempunyai agama diatur dalam TAP MPR Nomor IV/1978. Pada saat itu, penghayat kepercayaan dan kelompok spiritual tidak masuk dalam kategori agama resmi, sehingga mereka harus memilih satu di antara lima agama resmi. Status keagamaan itu tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) masing-masing warga.
Sementara Islam baru masuk sekitar tahun 1974. Itu ditandai dengan masuknya seorang kepala sekolah asal Dusun Garotan, Kecamatan Wajak. Dia muslim taat, kemudian menyebarkan agama Islam ke tengah masyarakat.
Sebenarnya, yang membabat alas Ngadas adalah orang Islam asal Mataram. Namanya Sidik Wancono. Namun Sidik tidak menyebarkan ajaran Islam. Melainkan hanya mengajari doa untuk menyembelih hewan ternak.
Meski umat Islam minoritas, mereka dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan aman. Tak ada gangguan dari umat agama lain. Justru sebaliknya, masyarakat tengger menjunjung tinggi toleransi beragama.
Di dusun dengan 1.400 kepala keluarga (KK) tersebut, sudah jamak satu keluarga diisi penghuni dari beberapa agama. Ada yang Muslim, Buddha, Hindu, dan Kristiani.
“Ada perempuan non-muslim yang memakai jilbab karena menangkal dingin,” imbuhnya.
Ramadan kali ini, toleransi terlihat saat buka puasa. Menjelang Magrib, umat non-muslim menyediakan takjil di masjid. Demikian juga ketika ada kegiatan desa, warga non-muslim yang akan memasak daging babi benar-benar memisahkan alat makan, bahkan termasuk minyak goreng. Tujuannya agar makanan yang dikonsumsi umat muslim dalam acara tersebut tidak bercampur dengan makanan lain yang mengandung babi.
Lalu pada kegiatan keagamaan, para tokoh lintas agama akan diundang ke acara. Misalnya untuk pengajian warga, tokoh Buddha dan Hindu diundang dan mereka datang. Begitu pun ketika Waisak, tokoh agama Islam dan Hindu juga hadir.
“Toleransi di sini sudah bagus,” kata Mujianto.
Selama Ramadan berlangsung, umat muslim leluasa menjalankan tadarus di masjid. Mereka boleh membawa ayat suci Al-Qur’an di masjid menggunakan pengeras suara. Itu dilakukan rutin setiap hari selama Ramadan. Warga non-muslim juga tidak ada yang keberatan atau protes.
“Akhirnya setelah salat tarawih, tadarus bisa dilaksanakan pakai speaker dalam masjid sampai pukul 00.00,” kata dia.
Pembatasan sampai pukul 00.00 demi menghormati jam istirahat warga lain, terutama yang non-muslim.
Di Ngadas, budaya megengan menjelang Ramadan juga berjalan. Biasanya H-1 menjelang puasa, umat Islam mengirim makanan ke kerabatnya, termasuk kerabat non-muslim. Masyarakat tengger menyebutnya sebagai Ngasah.
Kemudian terdapat tradisi kupatan setelah hari ke-tujuh Lebaran. Tapi semua berlangsung dengan ala Ngadas.
“Semuanya dilakukan tidak melihat agamanya apa. Baik ngasah atau maaf-maafan itu, walau keluarganya non-muslim tetap dilaksanakan,” ujar dia. (*/dan)
Disunting kembali oleh: Anna Tasya Enzelina
Editor : Aditya Novrian