Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Warga Akui Jembatan Garuda di Ternyang Sumberpucung Pangkas Waktu Perjalanan ke Kepanjen

Aditya Novrian • Selasa, 10 Maret 2026 | 15:05 WIB

 

Warga melintasi Jembatan Garuda di Desa Tenyang, Kecamatan Sumberpucung, Selasa (10/3). (Indah Mei Yunita/Radar Malang)
Warga melintasi Jembatan Garuda di Desa Tenyang, Kecamatan Sumberpucung, Selasa (10/3). (Indah Mei Yunita/Radar Malang)

SUMBERPUCUNG – Kehadiran Jembatan Garuda membawa perubahan bagi mobilitas warga di wilayah selatan Kabupaten Malang. Jembatan gantung tersebut menghubungkan Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, dengan Desa Mangunrejo di Kecamatan Kepanjen.

Salah satu warga Dusun Turus, Desa Ternyang, Indah Novitasari mengatakan jembatan itu mampu memangkas waktu perjalanan menuju kawasan Kepanjen.

“Kalau dari sini ke Jenggolo biasanya sekitar 45 menit. Kalau lewat jembatan ini bisa sekitar 30 menit naik motor,” ujarnya.

Baca Juga: Baru Diresmikan, Jembatan Garuda di Sumberpucung Malang Pangkas Waktu Tempuh ke Kepanjen Jadi 10 Menit

Menurut Indah, banyak warga Desa Ternyang yang bekerja sebagai buruh di kawasan Jenggolo, Kepanjen. Dengan adanya jembatan tersebut, jarak tempuh menjadi lebih singkat sehingga mereka bisa menghemat waktu, biaya, dan tenaga saat berangkat kerja.

Selain pekerja, pelajar juga kerap memanfaatkan jembatan tersebut untuk menuju sekolah.

“Anak sekolah juga sering lewat sini. Kalau saya biasanya lewat jembatan ini untuk ke Pasar Kepanjen,” tambahnya.

Sebelum jembatan dibangun, warga harus memutar melalui jalan besar untuk menuju Kepanjen. Sebagian warga juga memanfaatkan perahu penyeberangan untuk melintasi sungai dengan biaya sekitar Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu sekali menyeberang.

Baca Juga: Sisakan Satu Sisi Jalan Menuju Jembatan Garuda Termangu Kabupaten Malang

Meski sangat membantu, penggunaan jembatan gantung itu tetap dibatasi agar lebih awet. Dalam satu waktu hanya diperbolehkan satu sepeda motor atau maksimal tiga pejalan kaki melintas secara bersamaan.

“Kadang kalau di tengah jembatan terasa goyang, tapi tetap sangat membantu karena perjalanan jadi lebih cepat,” katanya.

Namun demikian, akses jalan dari ujung jembatan menuju jalan desa masih berupa tanah. Saat hujan turun, kondisi tersebut cukup menyulitkan warga yang melintas.

Penulis: indah Mei Yunita

Editor : Aditya Novrian
#KEPANJEN #Kabupaten Malang #jembatan Garuda