KEPANJEN - Limbah padat hasil membatik tidak dibuang begitu saja. Sisa pembatikan dapat diolah kembali sehingga menjadi bahan bernilai tinggi. Itulah yang dilakukan pembatik di Griya Batik Seng, Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen.
Penanggung Jawab Griya Batik Seng Evi Wahyu Astutik menyampaikan, setiap dua pekan, limbah yang dihasilkan dari proses pembatikan akan diolah untuk dimanfaatkan kembali. “Limbah padat tersebut kami rebus lagi dengan air panas supaya menjadi malam lerob,” kata Evi ditemui beberapa waktu lalu.
Malam lerob hasil daur ulang tersebut ditambah empat bahan. Yakni gondorukem, damar, sedikit minyak, dan parafin dengan takaran tertentu sesuai kebutuhan.
“Malam daur ulang untuk batik tulis dan batik cap itu komposisi resepnya berbeda. Meskipun didaur ulang, kualitasnya masih sama dengan malam baru, tergantung komposisinya,” imbuhnya.
Sebagai informasi, gondorukem ditambahkan untuk mengatur sifat malam supaya menjadi lebih keras, daya lekat ke kainnya meningkat, retakannya terkontrol, dan malam tidak mudah rontok.
Sedangkan damar ditambahkan supaya malam lebih lentur. Sementara parafin ditambahkan supaya campuran malam lebih mudah meleleh dan mengalir. Bahanbahan tersebut dicampur dengan sedikit minyak supaya tidak cepat membeku.
“Tantangan kami sekarang justru pengolahan limbah cair. Karena IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang sekarang sudah tidak representatif,” ucap Evi. Oleh karena itu, pihaknya akan pindah ke tempat produksi yang baru di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen. Di sana, dia sudah membangun IPAL baru. Targetnya, bulan depan sudah tuntas.
Sebagai informasi, pada hari biasa Griya Batik Seng m4mproduksi 500 lembar batik per bulan dengan berbagai ukuran. Setiap lembarnya rata-rata menggunakan 250 gram malam. Sehingga per bulan, pihaknya menggunakan 125 kilogram malam.
Dari jumlah tersebut, 100 kilogram menjadi limbah dan didaur ulang. Pada momentum tertentu, produksi semakin besar. Misalnya saat Hari Raya Idul Fitri. Pesanan tersebut bahkan sudah mulai berdatangan sejak Desember tahun lalu.
Pesanan datang dari berbagai kalangan. Mulai dari perorangan, lembaga swasta, hingga instansi pemerintah. Mereka ratarata berasal dari Malang Raya. Ada juga pesanan dari luar Kabupaten Malang yang memesan melalui marketplace. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho