DONOMULYO – Produksi garam di Kabupaten Malang terus digenjot. Tahun ini ditargetkan menghasilkan 75 ton garam. Upayanya dilakukan pemkab malang dengan melibatkan tiga Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR).
Tiga KUGAR yang kini beroperasi adalah KUGAR Sumberoto Sejahtera di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo. Lalu KUGAR Tumpakrejo Sejahtera di Kecamatan Gedangan, dan KUGAR Sidoasri Sejahtera di Sumbermanjing Wetan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring mengatakan, mulanya ada empat KUGAR. Namun satu fasilitas garam tunnel di Pantai Bajulmati, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan sudah dinonaktifkan karena rusak dan dipindahkan ke Sumberoto. Dari tiga KUGAR yang beroperasi tersebut, dua di antaranya sudah panen. “Sumberoto sudah panen 10 ton, Tumpakrejo 3 ton, dan yang satu lagi masih dalam proses,” kata dia.
Meski begitu, dia melanjutkan, ada beberapa kendala yang dihadapi petani garam di selatan Bumi Kanjuruhan. Di antaranya terdapat kerusakan dan kebocoran tunnel garam. Selain itu, harga jual garam masih rendah dibandingkan kualitas yang dihasilkan.
Harga garam asli Kabupaten Malang berada di angka Rp 2.500 per kilogram. Sedangkan dinas perikanan mengklaim garam Kabupaten Malang memiliki kualitas baik. Yakni tingkat NaCl (Natrium Klorida) mencapai 97,08 persen, setara garam industri. Juga tingkat putihnya juga 72,8 persen. Bila diuji laboratorium, hasilnya adalah garam kualitas 1.
Tapi pihaknya malah meninggikan target produksi tahun ini. Total 75 ton dibagi 3 KUGAR. Sumberoto 60 ton, Tumpakrejo 10 ton dan Sidoasri 5 ton. “Sementara target tahun lalu hanya 24 ton,” sebut Victor.
Peningkatan produksi tersebut, dia mengatakan, tahun ini dibarengi peningkatan mutu produksi. Sebab tahun ini pihaknya mengusulkan program pengolahan garam tunnel menjadi garam konsumsi, bahan baku industri, dan lainnya. Tujuannya untuk meningkatkan harga garam. “Kami mengusulkan program ke Pemkab. Tinggal menunggu perubahan anggaran 2026. Usulan berupa peralatan pengolahan garam,” kata Victor.
Selama ini, pengolahan garam hanya berupa kemasan tanpa melalui proses pengolahan. Namun tahun ini bakal ada mesin untuk pengolahan lanjutan yang dianggarkan Rp 500 juta. “Anggaran segitu (Rp 500 juta) untuk peralatan pengolahan dan perizinan produksi. Kami juga harapkan ada dana CSR yang turun,” tandas dia.(biy/dan)
Editor : Mahmudan