KEPANJEN – Kinerja pemerintah dalam mendongkrak sektor pendapatan relatif bagus. Itu terlihat dari tingginya pendapatan daerah dalam APBD 2025. Dari target Rp 4,85 triliun, realisasinya menembus Rp 4,86 triliun atau 100,23 persen.
Wakil Bupati (Wabup) Malang Lathifah Shohib mengatakan, tiga sumber pendapatan daerah berhasil mencapai lebih dari 95 persen. Yakni Pendapatan Asli Daerah (PAD) tercapai 100,82 persen atau Rp 1,19 triliun dari target Rp 1,21 triliun. Pendapatan transfer tercapai 100,82 persen atau Rp 3,64 triliun dari target Rp 3,62 triliun. Serta lain-lain pendapatan daerah yang sah tercapai 96,90 persen atau tercapai Rp 11,14 miliar dari target Rp 11,5 miliar.
“Peningkatan PAD akan kami lakukan melalui optimalisasi dengan cara menggali dan mengidentifikasi sumber PAD yang tidak membebani masyarakat dan tidak menurunkan minat berwirausaha,” ujar Lathifah.
Selain itu, pihaknya juga akan menjaga iklim investasi yang nyaman bagi penanam modal. Salah satunya dengan memudahkan perizinan.
Untuk menggali PAD dan mengurangi ketergantungan terhadap dana transfer daerah, pihaknya akan memaksimalkan Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD). Dalam regulasi tersebut juga ada aturan baru tentang skema opsen atau pungutan pajak tambahan berdasar persentase tertentu sebagai skema bagi hasil.
Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Nasional Demokrasi (NasDem) Kabupaten Malang Amarta Faza menyampaikan, capaian pendapatan daerah sudah baik. Namun pemkab harus tetap mendorong sumber-sumber pendapatan daerah untuk merealisasikan targetnya. Utamanya retribusi daerah yang sulit dipenuhi setiap tahunnya.
“Pemkab perlu melakukan evaluasi regulasi retribusi, termasuk penyesuaian tarif dan objek retribusi agar relevan dengan kondisi lapangan serta tidak membebani masyarakat. Namun tetap berpotensi meningkatkan PAD,” kata anggota badan anggaran (banggar) DPRD Kabupaten Malang itu.
Penguatan pengawasan dan penertiban juga perlu dilakukan. Utamanya pada objek retribusi yang selama ini belum ditagih optimal atau berpotensi bocor. (yun/dan).
Editor : A. Nugroho