KEPANJEN – Seiring berakhirnya musim hujan, Bumi Kanjuruhan dihantui kemarau panjang hingga ancaman kekeringan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap ada delapan kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan. Ancaman muncul lantaran ada potensi fenomena el nino, sehingga cuaca kering.
El Nino merupakan fenomena suhu permukaan laut di Samudera Pasifik meningkat di atas kondisi normal. Sehingga mengakibatkan kekeringan. Sebaliknya, La Nina terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik menurun di bawah kondisi normal. Kondisi tersebut memicu pertumbuhan awan berkurang dan curah hujan meningkat.
Kini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang memetakan daerah rawan kekeringan atau krisis air bersih. Berdasar peta tersebut, wilayah Kabupaten Malang didominasi kerawanan sedang. Namun ada beberapa titik rawan kekeringan tinggi. Mayoritas berada di Malang bagian selatan dan barat.
“Wilayah yang menjadi perhatian utama ada delapan kecamatan. Meliputi Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, Ampelgading, serta sebagian wilayah Ngantang dan Kasembon,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang Zainuddin kemarin (31/3).
Secara geografis, dia melanjutkan, daerah tersebut memiliki keterbatasan sumber air saat musim kemarau panjang. Untuk mengantisipasi kekeringan, BPBD bersama perangkat daerah (PD) terkait telah memonitor sumber air dan kondisi lapangan secara berkala.
Tujuannya untuk memastikan kecukupan kebutuhan air bersih. Selain itu, pihaknya juga melaksanakan koordinasi lintas sektor berbasis data peta rawan kekeringan. Edukasi dan sosialisasi juga disampaikan kepada masyarakat supaya air. Juga meningkatkan kesiapsiagaan sarana distribusi air bersih.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah rawan untuk menggunakan air secara bijak dan menyiapkan cadangan air,” kata pejabat eselon III B Pemkab Malang.
Jika mulai mengalami kesulitan air bersih, dapat segera melapor ke perangkat desa maupun kecamatan supaya bisa segera menerima bantuan dari pemkab.
Seperti diberitakan, sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Malang diprediksi akan mulai memasuki awal musim kemarau pada akhir April atau awal Mei mendatang. Sedangkan puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus 2026. Wilayah Malang termasuk dalam 53 zona musim (ZOM) di Jawa Timur yang mengalami puncak kekeringan paling intens pada bulan tersebut.
Dia mengatakan, karakteristik kemarau 2026 juga diprediksi lebih kering dengan sifat hujan diprediksi masuk kategori bawah normal. Hal tersebut karena peluang penguatan El Nino sebesar 50-60 persen pada pertengahan hingga akhir tahun. Oleh karena itu, durasi kemarau diperkirakan cukup lama. Yakni dengan rentang waktu berkisar antara 16 hingga 24 dasarian (sekitar 5 hingga 8 bulan) di berbagai zona. (yun/dan).
Editor : Mahmudan