TUREN, RADAR MALANG - Pengembangan bibit padi unggulan yang ditemukan salah satu warga Kecamatan Bululawang menghasilkan 11 ton per hektare. Salah satu organisasi masyarakat yang mengembangkan bibit padi bernama sukma itu yakni GP Ansor Kecamatan Turen.
Bupati Malang H M. Sanusi menyebut, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Malang. Sehingga pihaknya bakal mendorong peningkatan produktivitas pertanian, kesejahteraan petani, serta penguatan ketahanan pangan daerah.
“Kami juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam dunia pertanian, karena masa depan pertanian ada di tangan mereka,” ucap Sanusi. Menurutnya, inovasi, kreativitas, serta pemanfaatan teknologi modern di bidang pertanian sangat diperlukan supaya dapat terus berkembang.
Sementara itu, PAC GP Ansor Kecamatan Turen mencatat, dari lahan seluas 3 hektare yang disewa di Kelurahan Sedayu itu berhasil panen 33-35 ton. “Ini pertama kalinya kami mengelola padi, sebelumnya sempat menanam jagung,” ujar Ketua GP Ansor Kabupaten Malang Fatkhurrozi.
Sebagai informasi, padi sukma tersebut memiliki anakan yang lebih banyak dibanding padi lainnya. Karena itu, untuk mencapai hasil maksimal, ada SOP jarak tanamnya. Yakni 30-30-40 atau dibalik 40-30-30.
Artinya, antara padi yang ditanam pada baris pertama dan kedua diberi jarak 30 sentimeter. Begitu pula dengan baris kedua dan ketiga. Sedangkan, baris ketiga dan keempat diberi jarak 40 sentimeter.
Dengan menerapkan jarak tanam tersebut, maka dapat meningkatkan produktivitas. Sebab, semakin banyak tanaman yang mendapat sinar matahari langsung. Selain itu, potensi anakan produktif juga lebih tinggi di tepi barisan.
Hasil panen dari bibit tersebut lebih dari 10 ton per hektare. Itu hampir dua kali lipat dibanding padi lokal yang hanya mampu menghasilkan rata-rata 7 ton per hektare.
Penulis: Indah Mei Yunita
Editor : A. Nugroho