KEPANJEN - Tuberculosis (TBC) tidak hanya menyerang orang dewasa. Anak juga rawan terserang bakteri yang menyerang paru-paru tersebut. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap 659 anak terduga TBC. Sekitar 93 anak di antaranya terkonfirmasi positif. Usianya berkisar 0-14 tahun (selengkapnya lihat grafis)
Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah memaparkan tanda-tanda anak mengidap TBC.
“Gejala TBC pada orang dewasa dan anak-anak sama, tetapi l batuk pada anak sering kali bukan gejala utama. Berbeda dengan orang dewasa yang gejala utamanya batuk,” ujar Chairiyah kemarin (6/4). ”Berbeda dengan orang dewasa yang gejala utamanya batuk,” tambahnya.
Secara umum, salah satu ciri TBC adalah batuk-batuk. Sehingga orang yang batuk dapat dikategorikan sebagai terduga TBC. Kemudian, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut agar bisa disimpulkan diagnosis terakhir. Seperti pemeriksaan dahak dan sinar X.
Khusus gejala TBC pada anak meliputi batuk lebih dari dua pekan, demam hilang timbul lebih dari dua hari, berat badan turun atau tidak naik dalam dua bulan, serta kondisi anak yang lesu.
”Bila ditemukan salah satu gejala di atas, segera dirujuk ke fasilitas kesehatan,” katanya.
Pengobatan penyakit TBC menggunakan kombinasi beberapa jenis antibiotik yang dikenal sebagai Obat Anti Tuberkulosis (OAT).
“OAT biasanya terdiri dari empat jenis obat utama. Yakni Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol,” katanya.
Dia mengatakan, TBC dapat dicegah. Utamanya dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Di antaranya dengan memastikan ruangan memiliki ventilasi yang baik agar udara segar dapat masuk dan kuman dapat keluar. Tempat yang sempit, tertutup, dan ramai tanpa sirkulasi udara memadai dapat dihindari.
Selain itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga penting. Yakni melalui cuci tangan secara teratur dengan sabun, lalu tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Akan lebih baik jika menggunakan tisu atau siku bagian dalam. Serta tidak meludah sembarangan, terutama di tempat umum.
“Kontak dekat dengan penderita TBC aktif harus dihindari. Masker harus selalu digunakan jika berada dekat dengan penderita TBC,” kata Chair.
Sebab, dia melanjutkan, penularan TBC dapat melalui cairan atau cipratan liur (droplet) yang terinfeksi melalui udara. Begitu tetesan tersebut memasuki udara, siapa pun di dekatnya dapat menghirup. Seseorang dengan TBC dapat menularkan bakteri melalui bersin, batuk, berbicara, dan nyanyian.
Cara lain untuk mengantisipasi TBC adalah melalui imunisasi Bacille Calmette-Guérin (BCG).
“Meski tidak sepenuhnya mencegah infeksi paru, vaksin tersebut tetap penting sebagai perlindungan awal,” pungkasnya. (yun/dan).
Editor : Mahmudan