KABUPATEN, RADAR MALANG - Gelak tawa penonton ludruk organik meramaikan Festival Busu Jaman Biyen (BJB Fest), 12 April lalu. Sebagai pembukaan, para pemeran laki-laki tampil dengan berdandan seperti perempuan. Mereka mengenakan pakaian kebaya tradisional dan menampilkan beberapa tarian.
Ada pula yang menjelma sebagai sinden. Mereka bukanlah seniman profesional.
Latar belakang mereka yakni petani dan peternak dari Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung. Teater yang ditampilkan itu bertajuk Hikayat Keblek, yang artinya kelelawar.
Ceritanya berlatar tahun 1980-an. Saat itu, kondisi perekonomian di dusun tersebut masih sangat sulit. Kesenjangan sosial antar-kalangan terjadi di mana-mana. Pada masa itu, kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal gaib masih kental.
Mereka mencurigai, kalangan orang kaya mengikuti pesugihan.
”Ada satu warga miskin yang hasil panennya selalu berkurang setiap minggu. Memang ada yang benar-benar mencuri, tetapi orang tersebut percaya jika ada tuyul atau makhluk jadi-jadian yang mengambilnya,” ujar salah satu penggagas ludruk organik Depi Ari Cahyono.
Kecurigaannya bukan tanpa alasan. Setiap kali berasnya hilang, ada kelelawar lewat. Akhirnya, orang kaya tersebut dicurigai sebagai sosok yang menyamar sebagai keblek.
”Cerita itu dulu sangat ramai, makanya kami angkat dalam ludruk organik ini. Inti amanat dari cerita itu adalah jagalah hartamu dan menabunglah supaya masa depan lebih cerah,” kata Depi.
Ludruk organik itu digagas Depi bersama rekannya yang bernama Kusnadi pada 2017 lalu. Pada penampilan perdananya, mereka mengambil tema legenda terbentuknya Dusun Busu. Untuk menentukan jalan cerita, mereka menggali informasi dari pendahulunya.
Baca Juga: Lolos SNBP 2026 di Usia 15 Tahun, M. Fatichul Firdaus Jadi Calon Mahasiswa Termuda UM
Ada berbagai narasumber. Seperti warga kelahiran 1928 dan 1930.
Penampilan kedua bertajuk Leboes Aloem. Itu istilah untuk sayur yang sudah layu. Mereka mengisahkan kehidupan keluarga Kromo yang ekonominya sulit hingga anaknya sakit-sakitan. Cerita diawali dengan Kromo yang bekerja di ladang, tetapi memiliki atasan semena-mena.
”Kok urip mandor ngunu iku, kok ora mati ae. Nyambut gawe nggolek liyane (Kok hidup mandor seperti itu, kok tidak mati saja. Bekerja nyari yang lain),” celetuk salah satu rekan Kromo saat atasan mereka memaki Kromo.
Padahal, Kromo saat itu sedang kesusahan. Dia membutuhkan biaya untuk pengobatan anaknya, sehingga meminta kasbon.
Namun, malah dibentak oleh atasannya. Adegan itu membuat orang-orang tertawa miris. Bisa jadi karena pernah merasakan hal yang sama, yakni menghadapi atasan yang semena-mena saat bekerja.
Cerita terus berlanjut hingga akhirnya keluarga Kromo dibantu oleh tetangganya yang kaya. Cerita tersebut memang terjadi di Dusun Busu. Tim kreatif ludruk organik juga sudah meminta izin kepada keluarga yang bersangkutan.
”Namun, tujuh hari sebelum pentas, anak yang sakit tersebut meninggal. Akhirnya kami mengubah alur. Karena tidak mungkin kami menggunakan adegan orang meninggal,” kata pria berusia 36 tahun itu.
Saat menampilkan ludruk, biasanya mereka turut mengundang pejabat-pejabat desa. Dengan tujuan, supaya mereka mengetahui bahwa di dusunnya masih ada keluarga yang membutuhkan uluran tangannya.
Karena itu, selain ditampilkan dalam BJB Fest, ludruk organik juga dijadikan selingan saat acara dusun. Seperti peresmian tempat ibadah.
Namun, untuk penampilan di luar dusun, Depi belum bisa menyanggupi. Properti yang digunakan masih seadanya dan buatan tangan. Tim kreatif juga naik turun panggung untuk menyesuaikan latar belakang.
Kemampuan bermusik timnya juga sangat terbatas. Sehingga biasanya hanya menggunakan audio, bukan iringan gamelan asli.
Meski berlatar belakang sebagai petani dan peternak, mereka mampu menampilkan karya terbaiknya. Naskah hanya digunakan sebagai patokan jalan cerita. Segala percakapan di atas pentas dilakoni dengan natural. Karena itu dinamakan ludruk organik.
Sebab, semua unsur yang membentuk cerita dibuat manual dan natural.
”Terkadang, kami juga tampil di karnaval tempo dulu, tetapi bukan dalam bentuk ludruk organik, melainkan cerita berjalan,” ucap tokoh masyarakat Dusun Busu itu. Seperti pada perayaan Hari Kemerdekaan 2025 lalu.
Saat itu, mereka menampilkan kehidupan sekitar 1980-an di dusun tersebut. (*/by)
Editor : Bayu Mulya Putra