KEPANJEN – Agar masyarakat tidak mengonsumsi hewan kurban yang terserang penyakit, Pemkab Malang bakal menerjunkan tim pengawas. Tim disebar ke 16 pasar hewan se-Kabupaten Malang. Mereka bertugas mengawasi agar sapi atau kambing yang dijual tidak terserang penyakit membahayakan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang Lusia Endah Sukesi mengatakan, pihaknya sedang bersiap membentuk tim. Nantinya disebar merata di 16 pasar hewan.
“Kami akan ada pengawasan di lapak-lapak penjual hewan kurban,” ujar Sukesi beberapa waktu lalu.
Pengawasan tersebut setidaknya akan dilaksanakan sekitar dua pekan sebelum hari raya. Hal tersebut difokuskan untuk pengendalian penularan penyakit. Di antaranya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), dan antraks.
“Sampai saat ini, hewan yang terlapor terkena penyakit tersebut sudah sembuh,” kata pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.
Selain itu, imbauan kepada pemilik ternak untuk selalu menjaga biosecurity. Mulai kebersihan kandang hingga pemberian desinfektan dan vitamin. Sebab, lanjutnya, selama kondisi ternak fit dan sudah diberi vaksin, kemungkinan besar aman dari wabah penyakit apa saja.
Salah satu penjual ternak di Pasar Hewan Singosari, Muhammad Karman mengatakan, dia selalu menjaga kebersihan kandang. Desinfektan juga rutin diberikan untuk mencegah sapinya terkena penyakit menular. Sehingga selama dua tahun terakhir, dia bersyukur, tidak ada sapinya yang terkena virus.
“Vitamin itu biasanya saya kasih juga setiap hari supaya daya tahan tubuhnya kuat,” kata dia.
Sebab, begitu terserang penyakit, sapi akan lemas dan nafsu makannya berkurang. Jika hal tersebut terjadi, dia melanjutkan, akan mencari cara supaya ternaknya bisa makan terlebih dahulu. Salah satunya dengan membuat tubuh sapi bisa berdiri terlebih dahulu dan memberikannya obat-obatan tradisional. Misalnya dengan memberi brotowali yang rasanya pahit. (yun/dan).
Editor : Mahmudan