KEPANJEN – Memasuki musim kemarau, ancaman kebakaran harus diwaspadai. Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Malang mencatat, musim kemarau tahun lalu terdapat 124 peristiwa kebakaran. Mayoritas terjadi pada Juni 2025, yakni 17 kali. Oleh karena itu, Juni depan juga perlu diwaspadai ancaman bencana kebakaran.
Komandan Pleton Damkar Kabupaten Malang Andik Minarko mengatakan, objek kebakaran tahun lalu beragam. Mayoritas menyasar permukiman, baik berupa rumah maupun bangunan lain. Angkanya berkisar 48 bangunan. Kemudian disusul kebakaran gudang 16 kali dan pertokoan 14 kali.
“Rata-rata penyebab kebakaran berasal dari korsleting listrik, yakni 52 peristiwa,” ujar Andik kemarin.
Khusus April tahun ini, pihaknya mencatat 10 kali kebakaran. Rinciannya, ada dua rumah, dua kios, dan empat gudang serta industri. Ada juga kebakaran restoran dan instalasi listrik.
”Response time dari 10 kejadian itu rata-rata 12.3 menit,” kata dia.
Dengan rincian seluruh peristiwa bisa dijangkau petugas. Dari 33 kecamatan, terpantau wilayah paling banyak mengalami peristiwa kebakaran berada di Kecamatan Singosari.
“Wilayah terbanyak kedua ada di Kecamatan Pakis,” lanjut Andik.
Di pihak lain, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Purwoto menuturkan, saat ini status wilayah Kabupaten Malang masih siaga bencana hidrometeorologi. Namun bulan depan berpotensi dilanda kebakaran.
“Biasanya kami mulai waspada bencana kekeringan dan kebakaran pada Juni hingga Oktober,” terang Purwoto kemarin.
Tahun lalu, dia mengatakan, fatalitas kebakaran hutan dan objek lain didominasi pada Juni hingga Oktober. Sebab intensitas hujan berkurang dan wilayah Kabupaten Malang biasanya dilanda cuaca yang terik dengan suhu tinggi.
Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat lebih berhati-hati terutama ketika membakar sampah, membuang putung rokok, atau saat beraktivitas yang melibatkan api atau kelistrikan lainnya. (aff/dan)
Editor : Mahmudan