RADAR MALANG – Kawasan Turen ternyata pernah menjadi bagian penting jalur trem uap peninggalan Belanda di Malang selatan. Lebih dari seabad lalu, jalur tersebut digunakan untuk mengangkut penumpang sekaligus hasil bumi, terutama singkong menuju pabrik tepung tapioka yang kini menjadi kawasan PT Pindad.
Kini, hampir tidak ada lagi jejak fisik yang tersisa. Rel telah dicabut, stasiun hilang tertutup bangunan dan beton, sementara kisah kejayaan trem uap di Turen hanya tersimpan dalam arsip kolonial dan cerita para penghobi sejarah kereta api.
Baca Juga: Daftar Klub Lolos Club Licensing 2025/2026: Arema FC Masuk Kategori Granted with Sanctions
Turen Pernah Punya Jalur Trem Cabang Sendiri
Di tengah padatnya aktivitas Pasar Turen saat ini, sulit membayangkan kawasan tersebut dahulu menjadi titik pemberhentian trem milik perusahaan Belanda Malang Stoomtram Maatschappij (MS).
Penghobi sejarah kereta api Endiarto Wijaya menjelaskan, Turen memiliki jalur cabang pendek yang terhubung dari Sedayu menuju pusat kota Turen sepanjang sekitar 1,2 kilometer.
“Untuk stasiun Turennya sendiri diperkirakan ada di pojok barat Pasar Turen sekarang,” ujar Endiarto.
Berdasarkan arsip kolonial De Tramwegen op Java terbitan 1907, lintas Gondanglegi-Talok mulai beroperasi pada 9 September 1898. Kemudian jalur Talok-Dampit dibuka 14 Januari 1899.
Sementara jalur cabang menuju Turen Kota baru mulai dioperasikan pada 25 September 1908 atau hampir satu dekade setelah jalur utama berfungsi.
Kala itu, trem uap menjadi transportasi penting masyarakat sekaligus sarana distribusi hasil perkebunan dari wilayah Malang selatan.
Baca Juga: Konsumsi Miras di Ruang Publik, Enam Remaja di Malang Jalani Sidang Tipiring
Jalur Andalan Kirim Singkong ke Pabrik Tapioka
Selain mengangkut penumpang, jalur trem menuju Turen memiliki fungsi vital untuk distribusi hasil bumi. Salah satu komoditas utama yang diangkut adalah singkong dari kawasan selatan Kabupaten Malang.
“Ada kesaksian warga Desa Sengguruh yang melihat trem berangkat dari Sengguruh ke Turen mengangkut singkong,” kata Endiarto.
Singkong tersebut kemudian dibawa menuju pabrik pengolahan tepung tapioka milik Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), perusahaan perkebunan besar Belanda pada masa kolonial.
Kini, lokasi bekas pabrik itu telah berubah menjadi kawasan industri milik PT Pindad. Namun pada masa lalu, area tersebut memiliki jaringan rel sendiri yang terhubung langsung dengan jalur trem Sedayu-Turen.
Menurut Endiarto, sekitar tahun 1919 jalur rel ke dalam pabrik sudah tersedia untuk menunjang aktivitas pengangkutan hasil produksi.
“Jalur ke dalam pabrik itu dilayani wesel bandul alias layan setempat. Tidak diatur dari stasiun Sedayunya,” imbuhnya.
Baca Juga: Dari Pukis Jumbo sampai Pukis Bites, Pukis Cikme Jadi Spot Jajanan Favorit di Malang
Hilang saat Pendudukan Jepang
Jejak trem uap di Turen mulai menghilang pada masa pendudukan Jepang. Banyak jalur rel milik perusahaan swasta dibongkar untuk kepentingan perang.
Endiarto menyebut, jalur cabang menuju Turen termasuk salah satu lintasan yang dicabut dan tidak pernah dibangun kembali setelah Indonesia merdeka.
“Rel milik MS yang dibongkar itu Kepanjen MS-Gondanglegi, lalu cabang ke Turen dari Sedayu sampai ke Dampit,” jelasnya.
Belanda sempat membangun ulang sebagian lintasan Gondanglegi-Dampit setelah kembali ke Indonesia pascakemerdekaan. Namun jalur cabang menuju Turen tidak ikut diaktifkan lagi.
Sejak saat itu, keberadaan trem uap di Turen perlahan hilang ditelan perkembangan kota. Stasiun lenyap, rel tertutup tanah dan bangunan, sementara suara lokomotif uap tinggal menjadi bagian dari sejarah Malang selatan.