Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Waspadai Kopdes Merah Putih Kanibal di Malang 

Biyan Mudzaky Hanindito • Kamis, 14 Mei 2026 | 17:09 WIB

 

Grafis KDKMP
Grafis KDKMP

 

KEPANJEN – Keberadaan Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berpotensi menimbulkan masalah. Risiko yang kemungkinan menimpa desa adalah perebutan napas antara KDMP dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sebab, keduanya sama-sama unit usaha yang mengandalkan modal dari dana desa (DD).

Apalagi jika koperasi desa (kopdes) dan BUMDes bergerak di bidang yang sama. Misalnya sama-sama menyediakan logistik untuk mencukupi kebutuhan warga desa.

”Oleh karena itu, butuh peran Pemdes. Jangan sampai unit usahanya sama dengan BUMDes maupun UMKM di sana. Nanti jadinya kanibal,” ujar Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Universitas Brawijaya (UB) Joko Budi Santoso SE ME kemarin.

Dia menyarankan agar KDKMP dan BUMDes bersinergi. Misalnya, BUMDes berperan sebagai penyedia bahan baku, kemudian KDMP memasarkan di gerai miliknya. Hal itu bisa dilakukan lantaran tidak semua BUMDes memiliki gerai atau toko untuk memasarkan produknya.

Untuk pengelolaan KDKMP, Joko mengatakan, banyak yang merupakan pembentukan baru. Tapi beberapa juga ada yang hanya ganti baju dari koperasi lama di desa tersebut. Untuk yang ganti baju tersebut, menurutnya hal tersebut bisa saja dilakukan.

“Itu lebih karena sudah ada embrio ketimbang membentuk baru, walaupun secara formalitas harus dibentuk baru. Sepanjang pembentukan melalui Musyawarah Desa (Musdes) ya tidak apa-apa,” ujar dia.

            Di Desa Ternyang, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sudah beroperasi meski belum memiliki gedung baru. Sementara ini meminjam gedung milik desa. Lokasinya di sisi timur kantor desa, sedangkan BUMDes satu kompleks dengan kantor desa.

            KDMP Ternyang menyediakan komoditas seperti beras, telur, gas LPG, dan pupuk. Sementara BUMDes bergerak di bidang penggemukan sapi, ternak ikan lele, dan perkebunan jeruk.  

Kades Ternyang Didik Santoso mengatakan, pihaknya menyinergikan BUMDes dengan KDMP.

 ”Jeruk milik BUMDes dijual ke KDMP, lalu sebagian dipasarkan ke beberapa SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi),” kata dia.

Sementara di Desa Sumberoto, KDMP dan BUMDes bergerak di usaha yang sama, yakni pengelolaan garam.

 “Jadi nanti BUMDes akan mengelola garam, kemudian pemasarannya dilaksanakan oleh Kopdes,” terang Kades Sumberoto Budi Utomo.

Dia mengatakan, perlengkapan KDMP sudah siap. Mulai lemari, kendaraan pengangkut, sampai ketersediaan gedung. Begitu pula dengan personelnya bukan dari koperasi lama, melainkan betul-betul pengurus baru.

Berbeda dengan Ternyang dan Sumberoto, KDMP di Randugading berasal dari Koperasi Wanita (Kopwan) Kartini yang ganti baju. Hal itu diakui oleh Kades Randugading Crah Handayani. Dia mengatakan, pembentukan KDMP merupakan integrasi dari Kopwan yang kondisinya tidak sehat.

“Otomatis anggota lama langsung masuk. Sekarang totalnya 714 anggota,” terang dia.

Dia mengatakan, mulanya KDMP memanfaatkan gedung Kopwan dengan mini market di depannya. Kini tinggal menunggu gedung baru rampung, kemudian mereka akan boyongan. Di desanya, KDMP bergerak di bidang simpan pinjam, jual beli bahan pokok, pupuk subsidi, persewaan alat berat, dan pengkavlingan tanah untuk rumah tipe 6, 5, dan 17.

Crah menyebut ada sinergi antara BUMDes dengan KDMP. BUMDes mempunyai usaha peternakan dan pengelolaan air bersih warga. “Kemudian KDMP memasarkan telur tersebut,” katanya.(biy/dan)

Editor : Mahmudan
#BUMDes Malang #malang hari ini #Koperasi Merah Putih