Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Segini Target PG Kebon Agung dan PG Krebet untuk Kebutuhan Gula Nasional

Indah Mei Yunita • Rabu, 10 Juni 2026 | 16:29 WIB

 

Antrean truk tebu di PG Kebon Agung, Pakisaji, Kabupaten Malang (DARMONO/RADAR MALANG)
Antrean truk tebu di PG Kebon Agung, Pakisaji, Kabupaten Malang (DARMONO/RADAR MALANG)

 

 

PAKISAJI – Jatim turut andil dalam menyuplai kebutuhan gula nasional. Dari total target nasional 3 juta ton, 51 persen di antaranya dihasilkan dari Jatim. Sekitar 326 ribu ton di antaranya dihasilkan dari dua pabrik gula (PG) di Bumi Kanjuruhan. Yakni PG Kebon Agung dan PG Krebet Baru Bululawang.

Pemimpin PG Kebon Agung Ivo Verginanto mengatakan, pihaknya tahun ini ditarget bisa memproduksi 165 ribu ton gula. Target tersebut lebih tinggi dibanding tahun lalu yang berkisar 150 ribu ton gula.

“Kapasitas giling kami di angka maksimal 15 ribu ton tebu per hari. Sejak 3 Juni lalu, kami sudah mulai giling,” ujar dia.

Untuk memenuhi target tersebut, PG Kebon Agung tidak hanya memaksimalkan hasil panen tebu di Malang Raya, akan tetapi juga dari luar daerah. Dengan rincian, 55 persen dari Malang dan 45 persen dari beberapa daerah di luar Malang raya. Menurutnya, potensi rendemen (kadar kandungan gula) tebu tahun ini lebih baik.

“Tahun lalu masih hujan, kini kemarau panjang. Kami optimistis kandungan gula lebih bagus, potensi rendemen itu lebih tinggi. Kami berharap, potensi rendemen tahun ini bisa mencapai 7,5 persen,” ucapnya.

Selain itu, dia melanjutkan, variabel lain yang berpengaruh yakni waktu tebang tebu. Dia menyebut, setelah ditebang, akan lebih baik segera digiling agar potensi rendemen tidak turun.

Seperti diberitakan, pada musim giling 2026, PG Krebet Baru menarget mampu menggiling 21 juta kuintal tebu dengan estimasi rendemen 7,67 persen. Dari target tersebut, PG di bawah naungan PT Rajawali I itu mampu produksi gula sekitar 161 ribu ton.

Direktur Utama PT Rajawali I Daniyanto menyampaikan, rendemen tebu tahun ini ditarget meningkat dibanding tahun lalu.

“Rendemen tahun lalu hanya 6,4 persen karena musim kemarau basah. Sedangkan tahun ini, menurut BMKG kan kemarau kering. Mudah-mudahan rendemennya meningkat menjadi 7,67 persen,” ucapnya.

Selain cuaca, berbagai upaya juga dilakukan untuk meningkatkan rendemen. Di antaranya melalui pembinaan kepada petani yang menjadi mitra. Selain itu, pihaknya juga memberi blotong secara gratis jika ada petani yang datang ke pabrik. Blotong merupakan limbah pabrik gula yang mengandung karbon, nitrogen, fosfat, kalium dan mineral lain yang dapat dijadikan alternatif bahan baku pembuatan pupuk organik melalui metode pengomposan.

Dia juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan petani melalui sistem pembayaran yang lancar dan tepat waktu. Hal tersebut menjadi kunci keberlangsungan kemitraan.

“Ketika tebu diserahkan, pembayaran tidak boleh terlambat. Idealnya seminggu sekali, bahkan kalau bisa dua kali, supaya likuiditas petani tetap terjaga,” pungkasnya. (yun/dan).

Editor : Mahmudan
#PG di Malang #Gula Nasional #Pabrik Gula Malang