KEPANJEN – Sukses mengoperasikan Bus Trans Jatim jalur Hamid Rusdi-Batu, kini Pemprov Jatim berencana menambah rute baru. Salah satu yang sedang digodok adalah Malang-Kepanjen. Tepatnya dari Arjosari-Hamid Rusdi-Kepanjen. Sedangkan dua rute sebelumnya yang sempat mencuat, kini kemungkinan kandas. Yakni Hamid Rusdi-Kepanjen-Kesamben (Blitar) dan Hamid Rusdi-Tumpang-Wringinanom.
Seperti diberitakan, Bus Trans Jatim di Malang Raya sudah melayani rute Hamid Rusdi (Kota Malang)-Landungsari-Batu. Dengan jam operasional mulai pukul 05.00 sampai 19.20. Mengaspalnya bus milik Pemprov Jatim tersebut disambut positif masyarakat, sehingga diwacanakan pembukaan jalur baru.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Malang Eko Margianto membenarkan bahwa ada rencana operasional tersebut.
“Tapi ini rutenya belum fixed, karena rapat beberapa hari lalu hanya mengundang Kota Malang dan Kabupaten Malang saja. Kota Batu tidak diajak,” kata dia.
Pihaknya mengusulkan agar perjalanan ke arah Kepanjen melewati Bululawang, Krebet, dan Gondanglegi. Ujung dari perjalanan tersebut adalah terminal Talangagung, Kepanjen.
Eko menyebut, terminal yang selama ini dimanfaatkan untuk mangkal Angkutan Pedesaan (Angdes) tersebut sudah siap untuk digunakan.
“Rencananya dari Arjosari-Hamid Rusdi ke Kepanjen (Terminal Talangagung). Hanya saja saya harus mengakomodasi Kota Malang dan Batu dalam perencanaan pengembangannya,” sebut Kepala Bidang Angkutan Dishub Jatim Ainur Rofiq.
Sama dengan Eko, pihaknya menyebut bahwa rute yang akan dilewati masih dalam penggodokan. Setidaknya melalui rapat lanjutan pekan depan.
Ketika pembukaan rute Malang-Batu pada tahun lalu, Pemkab Malang mengusulkan rencana pengembangan ke dua arah. Yaitu Hamid Rusdi-Kepanjen-Kesamben lewat Kendalpayak dengan jarak total 46,7 kilometer. Juga Hamid Rusdi-Tumpang-Wringinanom (Poncokusumo) via Banjarejo-Slamet. Jarak sepanjang 25 kilometer dari ujung ke ujung.
Rofiq menyebut, pertimbangan jarak, impitan dengan angkutan umum lain, serta anggaran membuat kedua usulan tersebut tidak dipertimbangkan lagi. “Kalau ke Kesamben (Blitar) memang terlalu jauh. APBD kami tidak cukup. Juga ada layanan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) kami, berbentuk bus dan L300. Wringinanom belum bisa (diwujudkan),” sebut dia.
Ia menambahkan, dalam pembuatan rute Bus Trans Jatim harus mempertimbangkan permintaan masyarakat. Juga potensi integrasi antar moda transportasi. Dalam hal ini layanan angkutan AKDP berupa Mobil Penumpang Umum (MPU) atau bus, angdes, maupun angkot.
Sejauh ini, dia melanjutkan, demand Bus Trans Jatim pada rute eksisting juga tergolong baik untuk penumpang di wilayah Kabupaten Malang.
“Yang di Landungsari dan halte-halte di Kecamatan Dau itu okupansinya bagus, terutama ke arah Batu. Keterisiannya selalu 100 persen,” terangnya dia.
Grafik penumpang, khusus bus Trans Jatim di Terminal Landungsari dari tanggal 13 sampai 30 Maret di angka 40 penumpang sehari. Tertinggi di angka 143.(biy/dan)
Editor : Mahmudan