KEPANJEN - Demi mendukung keberlanjutan Makan Bergizi Gratis (MBG), Pemerintah Pusat merealisasikan program prioritas budidaya tematik. Program yang dirancang Direktorat Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI itu akan membagikan sarana dan prasarana perikanan budidaya ke 4.000 desa/kelurahan se Indonesia. Di Kabupaten Malang, ditarget setidaknya bisa mendapat 100 kuota.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring mengatakan, hingga saat ini, sudah ada 60 desa yang diusulkan untuk mendapat bantuan hibah dari program tersebut. Dari 60 desa, 47 di antaranya sudah memasukkan proposal resmi ke pemerintah pusat.
“Ada 17 desa yang sudah verifikasi lapangan dan dinyatakan layak. Seperti Desa Sananrejo dan salah satu desa di Kecamatan Lawang,” ujar Victor ditemui setelah sosialisasi program budidaya tematik dari KKP secara daring di Pendapa Panji, Kepanjen.
Dia menyebut, penerima awal program tersebut adalah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Namun ke depannya bakal kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bekerja sama dengan kelompok budidaya perikanan setempat. Desa yang sudah dinyatakan layak tinggal menunggu penetapan dari pusat untuk mulai dibangun tahun ini.
“Bantuan diutamakan bagi desa-desa yang lokasinya sudah memiliki embrio atau perkembangan budidaya perikanan. Misalnya budidaya nila atau lele,” imbuh pejabat eselon II Pemkab Malang itu.
Meski ada budidaya nila yang berkembang, program tersebut lebih didorong ke arah budidaya lele dengan beberapa pertimbangan. Di antaranya produksi lebih ekonomis, dagingnya disukai banyak kalangan, dan duri tidak terlalu banyak. Sehingga cocok untuk konsumsi anak-anak.
Bantuan yang diterima meliputi sarpras berupa kolam beton, pakan, dan bibit ikan. Nilainya sekitar Rp 1 miliar. Penerima ditarget mampu memproduksi hingga 10 ton dalam satu kali siklus.
“Sistemnya menggunakan RAS (Recirculating Aquaculture System). Sistem tersebut membutuhkan biaya operasional cukup tinggi. Terutama untuk pompa dan filter air atau sirkulasinya,” kata Victor.
Untuk menekan beban biaya produksi tersebut, efisiensi harus dimaksimalkan. Salah satu caranya yakni dengan memaksimalkan kepadatan tebar benih. Khususnya pada komoditas lele agar hasilnya sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.(yun/dan).
Editor : Mahmudan