KEPANJEN – Wacana operasional Bus Trans Jatim jurusan Malang-Kepanjen terus dimatangkan. Sambil menunggu kabar lanjutan dari Pemprov Jatim, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Malang menyiapkan tiga rute. Ketiganya sudah dimasukkan ke Dishub Jatim sebagai usulan dari Pemkab Malang.
Kepala Dishub Kabupaten Malang Eko Margianto menjelaskan, rute yang dilewati masih digodok antara Arjosari-Hamid Rusdi sampai Kepanjen.
“Kami masih menunggu kepastian rute serta arahan dari Dishub Jatim, termasuk juga terminal apakah jadi di Talangagung atau tidak,” ujar Eko kemarin.
Sementara untuk rute, pihaknya mengusulkan tiga jalur. Pertama, setelah Hamid Rusdi, bus menuju Terminal Talangagung di Kepanjen lewat Bululawang dan Gondanglegi. Alurnya dari Terminal Hamid Rusdi menuju Sempalwadak, Jalan Raya Krebet, Jalan Raya Hayam Wuruk Gondanglegi, kemudian menuju ke barat sampai Stadion Kanjuruhan.
Setelah sampai perempatan Yon Zipur belok kanan menuju ke RSUD Kanjuruhan di Jalan Panji, lalu pertigaan PLN belok kiri ke Jalan Kawi dan terus sampai mengakhiri perjalanan di Terminal Talangagung.
Rute kedua, dia melanjutkan, Hamid Rusdi-Talangagung lewat Sempalwadak dan Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji. Bus dari Hamid Rusdi mengarah ke Sempalwadak, lalu belok kanan di pertigaan pos polisi (Wandanpuro, Bululawang), kemudian lurus di Jalan Raya Bululawang. Setelah RS Ben Mari belok kiri ke Jalan Raya Segenggeng, Curungrejo, Sukoraharjo. Sampai pertigaan Penarukan, belok kanan ke arah Jalan HM Sun’an dan ke Jalan Kawi sampai Terminal Talangagung.
Rute ketiga, Hamid Rusdi-Pasar Gadang-Pakisaji-Kepanjen.
“Setelah Hamid Rusdi ke arah barat ke Jalan Rajasa sampai Pasar Gadang. Lurus sampai pertigaan Kacuk, lalu belok kiri ke arah Pakisaji, kemudian Kepanjen kota,” papar Eko.
Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang itu menyadari bahwa di tiga rute itu ada yang bersinggungan dengan angdes. Terutama angkutan di bawah naungan Jatim.
“Rata-rata punya Provinsi Jatim untuk angkutan aktif. Sementara punya kami yang bersinggungan hanya rute Talangagung-Gondanglegi-Turen. Kebanyakan sudah tidak aktif,” sebut Eko.
Meski bersinggungan, Eko optimistis menemukan solusi. Menurut dia, bersinggungan dengan angkutan eksisting bisa diakali dengan keberadaan feeder.
“Angkutan yang terlewati rute Trans Jatim dijadikan feeder. Tapi ini tetap Dishub Jatim yang memutuskan, sebagai instansi yang berwenang,” tandas dia.(biy/dan)
Editor : Mahmudan