GONDANGLEGI - Percepatan swasembada gula terus diupayakan oleh pemerintah pusat, termasuk di Kabupaten Malang. Oleh karena itu, pemerintah pusat memberi jatah bongkar ratoon atau penanaman tebu lagi. Kabupaten Malang ditarget 7.500 hektare.
Sebagai informasi, bongkar ratoon adalah mengganti tanaman tebu sebelumnya dengan tanaman baru. Sebab, rawat ratoon atau menggunakan tanaman lama untuk produksi hanya efektif dilakukan selama 5-6 tahun. Lebih dari jangka waktu tersebut, kualitas produksi tanaman tebu akan menurun.
Kemarin (18/6), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa merealisasikan program tersebut dengan menanam di lahan tebu Desa Putukrejo, Gondanglegi. Orang nomor satu di Jatim itu didampingi Bupati Malang H M. Sanusi.
“Dengan adanya program bongkar ratoon secara masif, hasil panen tebu bisa lebih maksimal,” ujar Khofifah di sela kegiatan kemarin.
Selain kualitas bibit yang harus dijaga, dia menyampaikan, proses penebangan dan penggilingan juga harus diperhatikan. Tujuannya agar rendemen tebu semakin tinggi dan kualitas gula yang dihasilkan juga lebih baik.
Melalui bongkar ratoon tersebut, dia berharap, Jatim mampu mencapai target swasembada gula konsumsi. Supaya dapat merealisasikan target tersebut, ekosistem hulu sampai hilir harus dijaga.
“Seluruh stakeholder juga harus menjaga agar pasar tidak dibanjiri gula rafinasi (gula industri),” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Malang H M. Sanusi menyampaikan, Kabupaten Malang menjadi salah satu sentra tebu terbesar di Jatim. Luas lahannya mencapai 48.168,95 hektare dengan total produksi 4,29 juta ton. Produktivitas rata-rata sekitar 89,15 ton per hektare.
Dengan demikian, adanya program bongkar ratoon diharapkan dapat semakin meningkatkan produksi tebu di Kabupaten Malang.
“Program ini memberi dukungan bantuan bibit tebu sebanyak 60.000 mata tunas per hektare,” kata Sanusi.
Dia melanjutkan, selain itu juga ada bantuan biaya Hari Orang Kerja (HOK) Rp 4 juta per hektare dengan ketentuan maksimal pengajuan 5 hektare per NIK. Dia berharap, tanam tunas tebu tersebut mampu menguatkan ekosistem produksi gula. Mulai dari penyediaan benih, budidaya, pembiayaan, pengolahan, hingga pemasaran hasil produksinya. (yun/dan).
Editor : Mahmudan