Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Begini Cara Hama Tikus-Wereng Memporak-porandakan Pertanian Warga Kabupaten Malang

Indah Mei Yunita • Kamis, 25 Juni 2026 | 15:14 WIB
pertanian warga Kepanjen, Kabupaten Malang
pertanian warga Kepanjen, Kabupaten Malang

 

KEPANJEN – Serangan hama dan wereng menjadi ancaman serius bagi petani padi di Bumi Kanjuruhan. Imas gangguan tersebut, produktivitas padi merosot. Setidaknya, itulah yang dirasakan petani di Kepanjen.

Matmuji, salah satu petani padi di Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen menyebut, luas lahan yang ditanam setiap siklus masih sama. Yakni 5.000 meter persegi atau setengah hektare. Namun hasil panen pertengahan tahun ini merosot.

“Panen sebelumnya menghasilkan 90 karung atau sekitar 3 ton. Panen kali ini sepertinya hanya sekitar 2 ton,” ujar Matmuji di sela panen padi kemarin (24/6).

Dia mengeluhkan hama tikus dan wereng menyerang setiap padi hendak panen. Meskipun sudah diberi obat, dia merasa masih ada saja tanaman yang diserang hama. Sehingga berpengaruh terhadap hasil panen. Terkait pengairan, menurutnya di lahan yang digarap tersebut tidak bermasalah.

Dalam satu tahun, dia panen dua kali. Seperti rata-rata waktu panen di Kabupaten Malang. Sebab, Indeks Panen (IP) di Kabupaten Malang mencapai 1,7. Artinya, dalam satu tahun, lahan pertanian di Bumi Kanjuruhan akan panen sebanyak 1,7 kali. Sebenarnya terdapat pola tanam yang memungkinkan panen lebih dari sekali tetapi belum mencapai dua kali sepenuhnya.

Secara umum, produksi padi di Kabupaten Malang pada 2025 lalu mencapai 405.298 ton. Dengan rincian, padi sawah ada 394.257 ton dan padi ladang 11.041 ton. Kecamatan penghasil padi tertinggi adalah Kepanjen, Turen, dan Pagelaran. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang hanya 403.037 ton.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera mengatakan, tahun lalu, produktivitas padi terkendala cuaca ekstrem. Selain itu, dia melanjutkan, adanya persaingan dengan komoditas lain. Seperti komoditas hortikultura dan jagung. Banyaknya infrastruktur irigasi yang rusak dan belum ditangani juga menjadi kendala.

“Saat ini, produktivitas rata-rata padi hanya 6-7 ton per hektare. Jika rata-rata produktivitas sekitar 10 ton per hektare saja, maka ada potensi peningkatan lebih dari 30 persen,” ujarnya.

Produktivitas 10 ton per hektare tersebut diupayakan melalui intensifikasi produk menggunakan bibit unggul. Salah satunya dengan mengembangkan varietas padi baru bernama Sukma yang memiliki produktivitas mencapai 14 ton per hektare.(yun/dan).

Editor : Mahmudan
#sawah kabupaten malang #hama petani Malang #Lindungi Petani Malang