MALANG, RADAR MALANG - Kawasan wisata religi Gunung Kawi di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, kembali menjadi perhatian publik setelah isu mengenai dugaan praktik pesugihan ramai diperbincangkan di media sosial. Berbagai unggahan di platform digital menampilkan narasi lama mengenai ritual mistis, disertai foto dan video yang diklaim berasal dari kawasan Gunung Kawi. Konten tersebut memicu perdebatan di kalangan warganet, antara yang mempercayai mitos tersebut dan menilai informasi itu tidak memiliki dasar yang jelas.
Baca Juga: Gunung Kawi Tak Bertumpu pada Wisata Religius
Menanggapi ramainya perbincangan tersebut, pengelola Wisata Religi Gunung Kawi menegaskan bahwa tersebut bukan tempat untuk melakukan praktik pesugihan. Gunung Kawi selama ini dikenal sebagai daerah wisata religi dan budaya yang menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah untuk berdoa, mengenang jasa Eyang Jugo dan Eyang Sujo, serta menggelar doa syukur atau selamatan sesuai tradisi masyarakat Jawa.
Pengelola juga menjelaskan bahwa daftar biaya selamatan yang sempat beredar di media sosial merupakan biaya penyediaan konsumsi dan perlengkapan acara bagi peziarah yang menggelar doa bersama. Tarif tersebut bukan biaya untuk ritual mencari kekayaan secara instan sebagaimana narasi yang berkembang di media sosial.
Terlepas dari isu yang kembali mencuat, aktivitas di kawasan Gunung Kawi tetap berjalan normal. Peziarah maupun wisatawan masih berdatangan untuk beribadah, berziarah, serta menikmati suasana kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Keberadaan sentra kuliner, kios cinderamata, serta pelaku usaha lokal juga terus mendukung perputaran ekonomi masyarakat sekitar.
Pemerintah dan pengelola berharap masyarakat dapat melihat Gunung Kawi sebagai bagian dari warisan budaya dan wisata religi di Kabupaten Malang.
Editor : Aditya Novrian