Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ini Solusi agar Produktivitas Panen Tebu di Malang Raya Meningkat

Indah Mei Yunita • Jumat, 10 Juli 2026 | 16:29 WIB

 

Tebu di Kabupaten Malang berpotensi meningkat produktivitasnya jika sistem pertanian yang diterapkan bagus
Tebu di Kabupaten Malang berpotensi meningkat produktivitasnya jika sistem pertanian yang diterapkan bagus

  

KEPANJEN - Upaya mendongkrak produktivitas tebu terus dipacu. Salah satu langkahnya melaliu program bongkar ratun. Yakni pembongkaran tanaman tebu lama untuk diganti benih baru. Hingga pertengahan tahun ini, potensi lahan yang sudah terkumpul mencapai 2.734,4 hektare.

Seperti diberitakan, target potensi lahan yang diproyeksikan untuk program tersebut berkisar 7.500 hektare. Sedangkan usulan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) indikatif untuk program bongkar ratun sekitar 5.250 hektare.

Usulan tersebut berasal dari KUD mitra PG Kebon Agung seluas 1.500 hektare, PG SGN (Mrican, Ngadirejo, dan Pesantren Baru) seluas 2.660 hektare, serta kelompok tani melalui penyuluh seluas 1.090 hektare. Hingga kini, realisasi usulan CPCL definitif telah mencapai 2.734,47 hektare.

​"Saat ini kami fokus mengumpulkan data NIK dan luas lahan petani untuk diajukan ke CPCL program 2026. Kami harus curi start pemberkasan sekarang, agar begitu masuk musimnya nanti, kendala administrasi sudah klir semua,” ujar Bendahara Kelompok Tani (Poktan) Suka Karya Imam Syafi’i kemarin.

Dia menyebut, ketertiban administrasi CPCL menjadi kunci utama agar bantuan bibit dan bongkar ratun bisa cair tepat waktu. Menurutnya, proses pemberkasan CPCL lebih selektif. Berdasar petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis (Juklak-Juknis) terbaru Kementerian Pertanian (Kementan), sistem membatasi kepemilikan lahan maksimal 5 hektare untuk satu NIK.

"Kalau tidak dibatasi, kasihan petani kecil lainnya tidak kebagian kuota karena lahannya telanjur dihabiskan oleh yang bermodal besar," imbuhnya.

Dia menjelaskan, wilayahnya merupakan area tadah hujan yang masuk ekosistem pola B atau tanam akhir. Sehingga kini sedang menunggu giliran untuk tanam. Berbeda dengan kawasan sawah basah beririgasi teknis seperti di Tajinan atau Gondanglegi yang masuk kategori pola A atau bisa mengajukan dan tanam lebih awal. ​

"Sehingga selama masa tunggu ini kami mengoptimalkan untuk membereskan berkas. Jadi ketika tanah sudah siap ditanami, urusan dokumen sudah beres dan petani tinggal fokus kerja di lahan,” pungkasnya. (yun/dan).

Editor : Mahmudan
#Tebu Malang #Pertanian tebu #malang hari ini