Tekan Biaya Pakan, Mahasiswa MMD UB Ajak Peternak Ayam di Desa Rejoyoso Budi Daya Maggot

Nabillah Puteri Vinandika • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 23:03 WIB
Mahasiswa Kelompok 15 MMD Universitas Brawijaya bersama perangkat Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. (Foto: Hanif/Radar Malang)
Mahasiswa Kelompok 15 MMD Universitas Brawijaya bersama perangkat Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. (Foto: Hanif/Radar Malang)

MALANG, RADAR MALANG – Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Kelompok 13 Universitas Brawijaya memberikan edukasi kepada peternak ayam petelur di Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, mengenai pemanfaatan maggot sebagai pakan alternatif.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama perangkat Desa Rejoyoso sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat mahasiswa, yang berlangsung pekan ini.

Baca Juga: Mahasiswa MMD Universitas Brawijaya Edukasi Peternak Desa Rejoyoso Manfaatkan Maggot sebagai Pakan Alternatif Unggas

Edukasi ini menyasar peternak ayam petelur yang selama ini banyak bergantung pada pakan komersial dengan harga yang terus meningkat. Maggot atau larva lalat black soldier fly (BSF) dinilai menjadi alternatif yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan, karena dapat dibudidayakan menggunakan media limbah organik seperti sisa sayur, buah, maupun sampah rumah tangga.

Larva maggot dikenal memiliki kandungan protein tinggi, sehingga berpotensi menjadi sumber protein alternatif bagi ternak unggas sekaligus mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan pabrikan. Selain itu, proses budi daya maggot turut membantu mengurai limbah organik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan di sejumlah wilayah pedesaan.

Program edukasi semacam ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan MMD Universitas Brawijaya 2026 yang tersebar di berbagai desa di Jawa Timur, dengan fokus meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna di sektor peternakan dan pertanian.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dikutip dari berbagai sumber
mahasiswa UB budi daya